Showing posts with label Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan. Show all posts

Siapa Manusia Yang Paling Berbahagia di Bulan Ramadhan

14:40 0

Nasehat Fadhilatusy Syaikh Muhammad Mukhtar Asy Syinqithiy hafidzahullah

Bulan Ramadhan merupakan madrasah diantara madrasah-madrasah teragung.
Di dalam ibadah puasa terdapat dua perkara besar. Tidaklah dua perkara ini terkumpul pada hati seorang hamba melainkan ia seorang penduduk surga.

Pertama: Ikhlas
Pokok agama yang paling mendasar.
Kedua: Sabar
Satu-atunya jalan menggapai derajat tinggi di surga Allah.

Puasa terbedakan (dengan ibadah yang lain) karena dua perkara ini.

Puasa memberi nutrisi hati seorang hamba untuk ikhlas demi menginginkan wajah Allah semata.

Manusia paling bahagia di dunia ini, mereka yang hatinya bergantung kepada Allah
Manusia paling bahagia di dunia ini, mereka yang hatinya terpaut untuk mengagungkan Allah dan merasa diawasi olehNya.
Manusia paling bahagia di dunia, mereka di saat pagi dan sore perkataan dan perbuatannya hanya karena Allah.

Ikhlas..
Karenanya Allah menurunkan kitab-kitabNya.
Karenanya Allah mengutus Rasul-rasulNya.

Ikhlas adalah mengharap wajah Allah subhanahu wata’ala,
Tiap detik dan masa yang kita lalui saat bulan puasa seluruhnya untuk mengumpulkan keikhlasan dalam hati.

Allah memberi isyarat akan hal ini dalam hadis qudsi,

كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به

“Seluruh amal anak adam untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untukKu. Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari no.1761 dan Muslim no.1946)

Seorang hamba mukmin yang shalih sepatutnya menasehati dirinya bahwa puasa yang ia jalani sesuatu yang diinginkan oleh Allah. Agar ia menjadi hamba Allah bukan hamba selain Allah.

Karena Islam adalah berserah diri kepada Allah semata, tunduk dengan ketaatan serta berlepas diri dari kesyirikan dan penyembahan berhala.
Allah keluarkan puasa untuk para hambaNya. Dengan tujuan agar seorang hamba menjadi ikhlas dan inabah kepada Allah.

Ikhlas adalah asas agama yang paling agung.
Hendaknya seseorang bertanya pada dirinya ketika puasa, bicara dan bermuamalah dengan manusia dan seluruh perbuatannya.
Apakah dia inginkan wajah Allah dengan perbuatan tersebut?  Ataukah menginginkan apa yang disisi manusia? Apakah ia inginkan pujian,  sanjungan, sum’ah?

Seorang mukmin sepantasnya menjadikan puasa sebagai timbangan seluruh kalimat yang ia ucapkan.
Karena itulah dahulu para salafushshalih tatkala ingin bicara sesuatu ia perhatikan isi  hatinya terlebih dahulu.
Apakah ia inginkan pujian manusia ataukah ia inginkan Allah, Rabb surga dan manusia.

Ketahuilah sungguh ada satu hari milik Allah.
Saat itulah hari paling akhir,
Hari terbesar,
Sebelum manusia masuk ke dalam surga, kampung keselamatan.

Ketahuilah sungguh ada satu hari milik Allah.
Tidak akan bermanfaat bagi manusia apa yang diinginkan (selama di dunia) kecuali wajah Allah.
Itulah hari kemenangan bagi orang yang benar.
Semoga Allah jadikan saya dan kalian semua termasuk orang-orang yang mendapatkan ramhatNya,  kemuliaanNya.

Hendaknya orang yang berpuasa menjernihkan hatinya untuk ikhlas. Ia biasakan diri dan melatih diri sebelum bicara dan berbuat hendaknya ia tujukan untuk Allah.

Oleh karena itu Al Hasan Al bashr rahimahullah berkata,

لا يزال الرجل بخير إذاقال قال لله وإذا عمل عمل لله

“Seorang hamba senantiasa berada di atas kebaikan manakala ia berkata, iapun berkata karena Allah dan manakala ia berbuat, iapun berbuat karena Allah.” (Mushannaf Ibni Abi Syaibah)

Cukuplah seseorang disebut munafiq,
Cukuplah seseorang disebut riya,
Cukuplah seseorang disebut penjilat,
Cukuplaj seseorang disebut pendusta,
Cukuplah seseorang disebut curang,
Manakala ia berbuat kedustaan.
Manakala ia jadikan seluruh perbuatannya pada perkara yang tidak diridhai Allah jalla jalaaluh.
Cukuplah seseorang mendzalimi diri sendiri manakala Allah melihat dalam hatinya paling dasar terdapat penipuan, kedustaan, kemunafikan, atau batinnya lebih sesat  daripada dzahirnya.

فشر الناس من كانت سريرته شرا من علانيته وخير الناس من كانت سريرته خيرا من علانيته وكانت علانيته خيرا

Sejelek-jelek manusia manakala sendirian ia berbuat lebih buruk daripada saat ia berada di depan banyak orang.
Sebaik-baik orang, manakala sendirian ia berbuat paling baik daripada saat ia berada di depan umum. Maka saat terang-terangan iapun senantiasa diatas kebaikan.

Demikian pula orang yang berpuasa ia menahan makan minum. Saat ia sendirian tidak ada orang yang melihat sementara ia mampu masuk ke dalam rumahnya, masuk ke dalam kamarnya kemudian ia makan sesuka hatinya, ia minum apa saja yang ia mau namun ia tidaklah makan dan minum karena ia sedang puasa. Selama29 atau30 hari, puasa mampu membersihkan seseorang untuk ikhlas. Melatih seorang hamba untuk perkara agung yaitu merasa diawasi oleh Allah, takut kepada Allah. Seluruh hari bulan Ramdhan adalah madrasah bagi seorang hamba untuk perkara yang agung ini.

****
Sumber: Channel Telegram Faedah Ilmiyyah Syaikh Muhammad Mukhtar Asy Syinqithiy
Simak audio berikut:
http://www.shanqiti.com/lessons/nLniU0JJiqorsNGqXc2M.mp3
Diterjemahkan oleh Penerjemah wanitasalihah.com
artikel wanitasalihah.com

Jadikan Ramadhan sebagai Momentum untuk Bertaubat

12:30 0
madanitv images
Bulan Ramadhan adalah …
momen yang sangat bagus untuk bertaubat kepada Allah Jalla wa ‘Ala.
Betapa banyak manusia yang melampaui batas,
tidak taat kepada Rabb-Nya,
menerjang berbagai kemungkaran.
Akan tetapi …
ketika tiba bulan Ramadhan yang mulia ini,
tersentuhlah hatinya untuk berbalik arah menuju jalan kebaikan,
hiduplah semangatnya untuk berbuat ketaatan.
Allah menerima mereka yang telah kembali ke jalan-Nya.
Allah melihat penyesalan yang tulus di hatinya,
penyesalan karena telah melalaikan seruan Allah.
Dia bertaubat,
taubat nasuha,
taubat yang tulus.
Pada bulan ini,
bulan yang agung ini,
banyak orang yang kembali menemukan jalan kebenaran,
mereka mendatangi Allah dengan taubat nasuha.
Mereka membuang masa lalunya yang hitam,
tak ingin lagi mengulangi masa lalu yang …
penuh maksiat
penuh dosa
penuh kesia-siaan.

Bulan ini adalah momentum untuk bertaubat.
ketika rahmat mengucur tiada henti dari langit.
ketika pintu kebaikan terbuka di mana-mana.
ketika ampunan Allah begitu mudah didapatkan.
Mari jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk bertaubat.
Untuk Anda yang masih merokok,
mari berhenti merokok.
Untuk Anda yang mencampakkan orang tuanya,
Mohon maaflah kepada keduanya.
Untuk Anda yang masih berpacaran,
Mari berhenti pacaran.
Untuk Anda yang masih suka berbohong,
mari berhenti berbohong.
Untuk Anda yang berpaling dari ajaran agama,
mari kembali duduk di majelis ilmu.
Untuk Anda yang ingin kembali kepada Allah,
sekaranglah saatnya …
untuk berubah menjadi lebih baik.
***
Oleh: Redaksi WanitaSalihah.Com
Artikel WanitaSalihah.Com

Umat Lain yang Diperintahkan Berpuasa selain Umat Nabi Muhammad SAW

00:30 0
viaberita.com images
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kalian diwajibkan berpuasa – sebagaimana orang-orang sebelum kalian juga diwajibkan (berpuasa) – agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Terdapat dua faedah dalam firman Allah,

كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“… Sebagaimana orang-orang sebelum kalian juga diwajibkan (berpuasa).”

Faedah pertama.

Menghibur umat ini yang tengah merasakan lapar dan haus karena berpuasa. Orang akan merasa terhibur bila tahu bahwa kesulitan yang dialaminya juga pernah dialami oleh orang lain.

Faedah kedua.

Menjelaskan bahwa Allah menyempurnakan – bagi umat ini – keutamaan-keutamaan yang diberikan kepada umat-umat terdahulu.

Dari sini bisa kita lihat bahwa syariat umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan penyempurna syariat umat-umat terdahulu. Segala puji bagi Allah; kita mohon kepada-Nya agar memberi kita keistiqamahan di atas Islam.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وعن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” مثلي ومثل الأنبياء كمثل قصر أحسن بنيانه ترك منه موضع لبنة فطاف النظار يتعجبون من حسن بنيانه إلا موضع تلك اللبنة فكنت أنا سددت موضع اللبنة ختم بي البنيان وختم بي الرسل ” . وفي رواية : ” فأنا اللبنة وأنا خاتم النبيين”

“Aku dan para nabi ibarat sebuah istana yang paling indah bangunannya. Di bangunan itu tertinggal satu batu-bata yang belum ada. Orang-orang yang melihatnya berputar mengitarinya dengan penuh kekaguman saking indahnya istana itu, kecuali di satu bagian batu-bata. Aku ibarat batu-bata yang menutupi bagian kosong itu, dan aku adalah penutup para rasul.” (Muttafaqun ‘alaih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan syariat beliau dan syariat umat-umat terdahulu ibarat sebuah bangunan istana. Istana itu sudah hampir sempurna, kecuali satu bagian batu-bata. Orang-orang mengitari istana itu sambil terkagum-kagum. Namun mereka pun tersadar bahwa ada bagian yang kosong; itu membuat istana berlubang dan tidak lagi sempurna.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku ibarat batu-bata yang menutupi bagian kosong itu, dan aku adalah penutup para rasul.

~
Referensi:
Liqa’usy Syahri, 1:194-195, Maktabah Syamilah.
Misykatul Mashabih, karya Syaikh Al-Albani, Maktabah Syamilah.

**
Penyusun: Redaksi WanitaSalihah.Com
Artikel WanitaSalihah.Com

Kiat Ber-Medsos ketika Ramadhan

11:30 0
Pinters images
Medsos seakan menjadi kebutuhan harian setiap orang. Kita akui, banyak kemudahan yang bisa diperoleh dengan medsos.

Ketika seorang ibu tak sempat memasak sendiri untuk antaran buka puasa di masjid, dia bisa menelepon pihak catering untuk pesan-antar sesuai menu yang diinginkan.
Ketika seorang ayah tak sempat berbuka puasa bersama keluarga di rumah, dia bisa menghubungi anaknya untuk sekadar bercengkerama.
Ketika seorang anak perlu aktivitas bermanfaat sepanjang Ramadhan, ibunya bisa mencari ide-ide segar via medsos.
Ketika kita bingung dengan suatu perkara syariat, kita bisa mencari jawabannya dari referensi online tepercaya atau menanyakan langsung ke ustadz via medsos.
Di sisi lain, kita bersama sudah tahu bahwa di dunia medsos terbenam banyak “ranjau”. Ranjau-ranjau maksiat dan dosa. Bila kita salah melangkah, bisa-bisa kita menginjak “ranjau” itu. Akhirnya, kesempurnaan puasa kita berkurang dan pahala pun ikut berkurang.

Karena itulah, kali ini Redaksi WanitaSalihah.Com akan membagi beberapa kiat bermedsos ketika Ramadhan. Semoga medsos ini membawa manfaat sepanjang Ramadhan kita, bukan malah sebaliknya.

1. Al-Quran dan ibadah tetap yang utama

Medsos adalah sarana duniawi. Statusnya sama seperti hal mubah lainnya: bermanfaat bila digunakan sebagai sarana ibadah. Oleh sebab itu, berikanlah medsos jatah secukupnya. Kita gunakan medsos seperlunya, agar kita bisa memiliki waktu yang jauh lebih banyak untuk berinteraksi dengan Al-Quran dan melakukan ibadah lainnya.

2. Jaga mata dan telinga

Kadang kita tak sengaja berjumpa “ranjau” di medsos, seperti aurat wanita/lelaki, musik, gosip seputar dunia selebriti, berita politik, dan semacamnya. Ini adalah petaka pada hari-hari biasa, apatah lagi pada bulan suci Ramadhan.

Hati-hati! Sekali kita menginjaknya, ledakannya bisa dahsyat sekali.

Kita melihat atau mendengar perkara yang haram. Padahal puasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tapi juga menahan pandangan, pendengaran, lisan, hati, dan seluruh anggota tubuh.
Sekali melihat atau mendengar, jejaknya akan terus terbayang dan terngiang. Hati-hati bila menjumpai hal yang haram atau tidak bermanfaat sama sekali. Dia akan mendesak ruang di hati kita, meminta tempat yang sangat banyak. Membuat benak kita sibuk mengingatnya. Gosip artis, berita politik, dan banyak hal penting lainnya kadang menjadi ranjau tak terduga. Lebih baik kita waspadasebelum tak sadar menginjaknya. Kepada Allah kita memohon taufik.

3. Jauhi debat dan ucapan yang tak berguna

Medsos membuat lisan mampu terdiam tapi jari berubah menjadi sangat gesit. Pada hari-hari biasa saja, kita seharusnya menghindari debat dan ucapan yang tak berguna. Apatah lagi pada saat Ramadhan yang istimewa ini.

Debat dan ucapan yang tak berguna juga akan menyita begitu banyak waktu dan menguras perasaan. Alhasil, waktu, tenaga, dan pikiran yang bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat malah terbuang sia-sia atau bahkan mengantarkan diri ke pintu dosa.

Dosa itu tetap saja sama, apakah pada bulan Ramadhan atau bulan selainnya. Dia tetaplah dosa kepada Allah Sang Khalik. Dosa itu akan membuat kita malu dan menyesal pada hari hisab kelak.

Bilal bin Sa’ad rahimahullah, seorang tabi’in, berkata,

لا تنظر إلى صغر المعصية، ولكن انظر من عصيت

“Jangan melihat kecilnya maksiat, tapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.” (Ad-Da’ wad Dawa’: 82)

***
Disusun oleh Redaksi WanitaSalihah.Com
Artikel WanitaSalihah.Com



Dua Cara Mudah untuk Memanfaatkan Tiap Detik Ramadhan Anda

01:00 0
Ramadhan bubarak images
Secara umum, waktu kita pada bulan Ramadhan terbagi dua:
1. Waktu untuk ibadah.
2. Waktu untuk aktivitas duniawi.

Ketika melakukan ibadah, hendaknya kita berkonsentrasi dan berusaha untuk khusyu’, misalnya ketika shalat, membaca Al-Quran, dan menghadiri majelis ilmu.

Nah, bagaimana ketika kita mengerjakan aktivitas dunia? Bagaimana caranya supaya waktu kita tetap menghasilkan pahala?

Mari praktikkan dua cara mudah berikut ini. Semoga bermanfaat.

Pertama. Berzikir pada setiap kesempatan.

Bila kita sedang beraktivitas sehari-hari – misalnya mencuci, memasak, di kendaraan, berjalan kaki, antri, menunggu, dan lain-lain – jangan biarkan lisan kita diam percuma. Mari berzikir dan beristigfar.

Astagfirullah.
Subhanallahi wa bihamdih.
La hawla wa la quwwata illa billah.
Dan lain-lain.
Selain mendapat pahala, dengan berzikir kita menyuburkan iman di hati. Bila seseorang malas berzikir, setan akan mudah sekali menggodanya. Na’udzu billahi min dzalik.

Kedua. Niatkan perkara duniawi untuk ketaatan kepada Allah.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di –rahimahullah– mengatakan,

“Perkara mubah dibolehkan dan diizinkan oleh syari’at untuk dilakukan. Namun, perkara mubah itu dapat pula mengantarkan kepada hal-hal yang baik maka dia dikelompokkan dalam hal-hal yang diperintahkan. Perkara mubah terkadang pula mengantarkan pada hal yang jelek, maka dia dikelompokkan dalam hal-hal yang dilarang.

Inilah landasan yang harus diketahui setiap muslim bahwa hukum sarana sama dengan hukum tujuan (al wasa-il laha hukmul maqhosid).”

(Selengkapnya lihat di http://wanitasalihah.com/agar-makan-dan-tidur-menjadi-berpahala/)

Akan tetapi, ada satu hal penting yang perlu diingat. Jangan sampai kita berlebih-lebihan dalam hal yang mubah karena beralasan bahwa itu diniatkan untuk ketaatan kepada Allah.

Misalnya, sepanjang pagi hingga siang hanya tidur, dengan mencari-cari alasan bahwa itu dilakukan supaya badannya kuat berpuasa. Lalu pada sore hari, jalan-jalan keliling kota, dengan mencari-cari alasan bahwa itu untuk melewatkan waktu, supaya dia tidak tergoda untuk makan di rumah.

Kalau seperti ini caranya, kapan waktunya untuk membaca Al-Quran dan mentadabburinya? Kapan waktunya untuk duduk di majelis ilmu? Kapan waktunya untuk berbuat kebaikan yang lain?

(*) Catatan:

Di masyarakat kita tersebar riwayat yang mengatakan “tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”. Ini merupakan hadits yang tidak benar. Silakan baca di:

https://konsultasisyariah.com/5926-tidur-waktu-puasa.html
https://rumaysho.com/454-tidurnya-orang-yang-berpuasa-adalah-ibadah.html
***
Oleh: Redaksi WanitaSalihah.Com
Artikel WanitaSalihah.Com