Showing posts with label Kajian. Show all posts
Showing posts with label Kajian. Show all posts

Dasar Mempertahankan Diri dan Harta

15:01 0
hukum melawan begal/pencuri

Dari Abu Hurairah radhiya-Allahu ‘anhu, dia berkata bahwa ada seseorang laki-laki yang datang menghadap Rasulullah ﷺ. Laki-laki tersebut berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika ada seseorang yang mendatangiku, yang bermaksud dan berkeinginan untuk mengambil hartaku?
Rasulullah ﷺ kemudian bersabda, “Jangan kau berikan hartamu kepada dia.”
dia melanjutkan pertanyaanya, “Bagaimana pendapatmu jika dia kemudian hendak membunuhku?”
Rasulullah ﷺ bersabda, “Bunuhlah dia.”
Dia bertanya lagi “Bagaimana jika dia memang membunuhku?”,
Rasulullah ﷺ bersabda “Maka kamu dicatat dalam keadaan mati syahid”.
La-ki-laki itu bertanya lagi “Bagaimana jika aku membunuhnya?”,
Rasulullah ﷺ bersabda “Dia yang di neraka".

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : (( جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِي ؟ قَالَ : فَلا تُعْطِهِ مَالَكَ ، قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِي ؟ قَالَ : قَاتِلْهُ ، قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِي ؟ قَالَ : فَأَنْتَ شَهِيدٌ ، قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ ؟ قَالَ : هُوَ فِي النَّارِ ))
رواه مسلم في الإيمان باب من قصد أخذ مال غيره بغير حق كان مهدر الدم (201

Larangan Tidak Tertegur Sapa Selama 3 hari Dalam Islam

18:27 0
Salah satu diantara prinsip yang diajarkan dan ditekankan dalam islam adalah menjaga persaudaraan sesama muslim. Karena itu, Allah memotivasi agar kaum muslimin berupaya menjadikan muslim yang lain sebagaimana layaknya saudara.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Sesungguhnya hanya kaum muslimin yang bersaudara. Karena itu, berupayalah memperbaiki hubungan antara kedua saudara kalian..” (QS. Al-Hujurat: 10).

Bahkan Allah ingatkan, diantara nikmat besar yang Allah berikan kepada para sahabat adalah Allah jadikan mereka saling mengasihi, saling mencintai, padahal sebelumnya mereka saling bermusuhan,

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, kemudian Allah mempersatukan hatimu, lalu jadilah kalian orang-orang yang bersaudara, karena nikmat Allah. (QS. Ali imran: 103).

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan hubungan persaudaraan antara sesama muslim, ibarat satu jasad. Jika ada yang sakit, yang lain turut merasakannya,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اثْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka adalah bagaikan satu jasad, apabila satu anggota tubuh sakit maka seluruh badan akan susah tidur dan terasa panas.” (HR. Muslim 2586).

Akan tetapi, membangun suasana persadauraan semacam yang diajarkan islam, lebih sulit ketimbang memindahkan gunung. Setan selalu berupaya memicu terjadinya permusuhan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

“Setan (Iblis) telah putus asa untuk disembah oleh orang yang rajin shalat di Jazirah Arab. Namun dia selalu berusaha untuk memicu permusuhan dan kebencian.” (HR. Muslim 2812 dan Ibn Hibban 5941).

Ketika Iblis melihat kemajuan islam di akhir dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia sudah putus asa, tidak mungkin kaum muslimin akan menyembahnya (melakukan syirik) di jazirah arab. Karena mereka menjadi generasi yang sangat kuat imannya. Tapi setan tidak tinggal diam, dia berupaya untuk memicu munculnya permusuhan diantara mereka.

Karena itu, sikap saling mendzalimi tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Sikap saling mendzalimi telah menyatu dan menjadi warna hidup manusia. Namun, islam tidak membiarkannya. Islam menekan agar seminimal mungkin semacam ini bisa terjadi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari.” (HR. Bukhari 6237 dan Muslim 2560).

Anda bisa perhatikan hadis di atas,

Islam tidak melarang umatnya untuk membenci muslim yang lain secara mutlak. Karena setiap muslim yang merasa telah didzalimi orang lain, dia pasti akan membencinya. Dan tidak bisa serta merta memaafkannya. Untuk itu, islam memberikan batas toleransi selama 3 hari. Toleransi bagi gejolak emosi yang itu menjadi tabiat manusia.

Sumber: konsultasisyariahcom

Keistimewaan Lalat Berdasarkan Hadits Dan Sains

10:00 0

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan:
Pertanyaan beliau yang lain. Penanya bertanya tentang hukum lalat yang jatuh di bejana. Kami mengharap penjelasan seberapa besar derajat keshahihan hadis ini.
Secara makna di dalamnya disebutkan jika ada lalat terjatuh di dalam makanan salah seorang diantara kalian hendaknya ia mencelupkan ke dalamnya. Karena di salah satu sayapnya terdapat  penyakit dan di sayap yang lain terdapat obatnya. Atau secara makna demikian. Dimana sebagian ustadz menolak kesahihan hadis ini. Kami mengharapkan penjelasan. Waffaqakumullah.

Jawaban:
Hadis ini diriwayatkan Al Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda

إذا وقع الذباب في شراب أحدكم فليغمسه، فإن في أحد جناحيه داءً وفي الآخر دواء

“Jika seekor lalat terjatuh di dalam minuman kalian maka celupkan ke dalamnya. Karena sesungguhnya di salah satu dari kedua sayapnya terdapat penyakit dan sayap yang lain terdapat obatnya.”

Sementara dalam riwayat Abu Dawud, beliau menambahkan lafadz,

وإنه يتقي بجناحه الذي فيه الداء

“Sesungguhnya sayap yang ada obat tersebut mencegah sayap yang ada penyakit.”

Ini adalah hadis shahih. Tidak ada alasan menolak keshahihannya setelah ditetapkan di dalam Shahih Bukhari. Keterbatasan pengamatan sebagian orang untuk mengetahui hikmah yang terdapat dalam hadis tidaklah menunjukkan bahwa hadis ini tidak shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam.
Inilah kaidah yang harus diketahui setiap orang.

Tatkala seseorang memiliki keterbatasan dalam memahami hikmah dari hukum-hukum syariat hendaknya ia tuduh dirinya sendiri (yang banyak kekurangan) bukan malah menuduh dalil syariat (dengan mengatakan hadis tersebut lemah, palsu dll-pen).
Karena nash (dalil-dalil) syariat bersumber dari Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengenal.

Mereka yang mencela kandungan hadis ini disebabkan kurangnya kesalehan mereka serta sedikitnya ilmu yang ada pada diri mereka.
Jika tidak demikian karena apa lagi?
Sungguh perkara ini telah ditetapkan dalam ilmu kedokteran bahwa lalat memiliki zat yang menjadi sebab timbulnya penyakit bakteri.
Zat ini terdapat di salah satu sayap. Sementara di sayap yang lain terdapat zat yang berfungsi menetralisirnya.
Dengan demikian hadis ini secara sempurna sejalan dengan penemuan ilmu kedokteran.

Apapun itu, yang menjadi kewajiban seseorang tunduk terhadap apa yang terdapat dalam Kitabullah dan hadis shahih Nabi shallallahu’alaihi wasallam serta tidak berusaha melemahkan hadis-hadis yang kuat secara shahih datang dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam lantaran akalnya tidak mampu menjangkau hikmah di balik hadis tersebut.

Sungguh Allah Ta’ala berfirman,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit“.(QS. Al-Isra': 85)

***
Sumber: Silsilah Fatawa Nur Ala Dar no.75
Wanitasalihah.Com

http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/Lw_075_08.mp3
السؤال:

سؤاله الآخر يسأل عن سقوط الذباب في الإناء، يقول: نرجو توضيح مدى صحة الحديث الذي فيما معناه إذا سقط الذباب في طعام أحدكم فليغمسه؛ لأن في أحد جناحيه داء وفي الآخر دواء. أو فيما معناه. ويقول: حيث اعترض بعض الأساتذة على عدم صحة هذا الحديث، نرجو تبين ذلك وفقكم الله.

الجواب:

الشيخ: هذا الحديث رواه البخاري من حديث أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «إذا وقع الذباب في شراب أحدكم فليغمسه، فإن في أحد جناحيه داءً وفي الآخر دواء». وقد زاد أبو داود: «وإنه يتقي بجناحه الذي فيه الداء». وهو حديث صحيح ولا وجه للاعتراض عليه بعد ثبوته في صحيح البخاري، وكون بعض الناس يقصر نظره عن معرفة الحكمة في هذا الحديث لا يدل على أن الحديث لا يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم، وهذه قاعدة ينبغي أن يعرفها كل أحد؛ أن الرجل إذا قصر فهمه عن حكمة لحكم شرعي فليتهم نفسه ولا يتهم النصوص الشرعية؛ لأنها من لدن حكيم خبير. وهؤلاء الذين طعنوا في هذا الحديث أوتوا من قلة ورعهم ومن قلة علمهم، وإلا فقد ثبت طباً أن في الذباب مادة تكون سبباً لمرض البكتيريا، وأن هذه المادة تكون في أحد جناحيه، وفي الجناح الآخر مادة أخرى تقاومها. وعلى هذا فيكون الحديث مطابقاً تماماً لما شهد له الطب، وأياً كان فإن الواجب على المرء التسليم بما جاء في كتاب الله وفيما صح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، وألا يحاول توهين الأحاديث الواردة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم بمجرد أن فهمه لم يصل إلى معرفة حكمتها، فإن الله تعالى يقول: ﴿وَيَسْأَلونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلاً﴾.

Antara Pemabuk Khomer Dan Mabuk Kenikmatan

15:38 0
ilmutasawufcom images
Anda Yakin Lebih baik dari Pemabuk? Renungkan Nasihat Syeikh Imam Muhammad Al-Ghazali, ulama kenamaan Mesir berikut.
Suatu hari Aku berkata kepada peminum minuman keras: "Kenapa engkau tidak taubat kepada Allah?". Dia menatapku dengan perasaan yang hancur, berlinang air mata lalu dia berkata: " Syeikh doakanlah Aku".
Aku merenungi keadaan pria itu, dan hatiku luluh karenanya; tangisannya menunjukkan kesadaran atas kelancangannya menerjang larangan Allah, kesedihannya adalah pengakuan atas kecerobohannya, dan dia mempunyai keinginan kuat untuk memperbaiki diri. Dia sungguh-sungguh orang beriman, Aku sangat yakin, namun dia diuji oleh Allah. Dia begitu ingin mendapatkan penjagaan dari Allah ('afiyah), dan ia memohon aku mendekatkannya.
Aku berkata pada diriku, diri ini tak jauh beda dengan pria itu atau boleh jadi Aku lebih buruk. Betul Aku sama sekali belum pernah meminum minuman keras, tapi karena memang lingkungan pergaulanku tidak mengenal minuman keras. Namun Aku seringkali lalai kepada Allah yang ta ubahnya dan sama buruknya dengan meminum minuman keras, karena lalai, Allah hilang dari kesadaran ku. Dan Aku lupa hak-hak Allah. Pria peminum khomer itu menyesali perbuatannya, sedangkan Aku dan orang yang kondisinya sama denganku tak pernah menyesali kekeliruan kami. Kami tertipu oleh angan-angan kami sendiri.
Aku menatap pria peminum yang meminta doa dariku, aku katakan padanya ayo berdoa bersama-sama: " Ya Allah kami sungguh menganiaya diri kami, seandainya Engkau tidak mengampuni kami niscaya kami dalam keadaan merugi".
Aku berpesan pada para da'i yang sering berdakwah atau berceramah berhati-hati lah terhadap orang lain, sungguh-sungguh lah memahami agama karena orang yang dikehendaki buruk maka ia tidak diberi pemahaman yang baik tentang Agama, walaupun dia adalah pendakwah ulung yang ceramah di berbagai penjuru kota.
Imam Muhammad Al-Ghazali ( Ulama Besar dan penulis kenamaan Mesir). Dalam bukunya "Dustur Tsaqafiyah Baina al-muslimin".

Oleh: Habib Muhammad Luthfi bin Yahya

Cara Menghilangkan Egois (KE-AKU-AN)

15:18 0
Habib Muhammad Luthfi bin Yahya
Allah Swt. dalam memberikan fadhail (keutamaan-keutamaan) kepada para nabi, sampai kepada para waliNya dan para ulama shalihin pun berbeda. Sampai kenikmatan apa yang diberikan kepada kita semua hari ini (Jum'at Kliwon) sampai hari kiamat tidak akan ketemu lagi nikmat seperti hari ini, walaupun Jum'at Kliwonnya tidak berubah. Kenikmatan demi kenikmatan walau berganti-ganti waktu semuanya itu tidak akan kita temukan (kenikmatan yang sama) sampai hari kiamat. Karena begitu agungnya fahmat dan fadhal Allah Swt.
Allah Swt. apabila memberikan keistimewaan, seperti contoh yang kecil tapi kita akan mengalami semuanya, diantaranya diberi tawassul; kelak manusia akan menghadapi timbangan (mizan)Nya. Jika kita bertanya secara tauhid, Allah Swt. tidak (mustahil) ta'alluq (bergantung) kepada sesuatu apapun. Memberikan timbangan (mizan) kelak amal seseorang akan ditimbang bukan berarti Allah tidak mengetahui amal-amal yang telah diperbuat oleh manusia. Dan manusia, setiap hamba yang shalih akan mendapatkan suatu imbalan atau pahala. Pahala diberikan kepada hambaNya itu fadhal dari Allah Swt. Kita bisa menjalankan amal yang shalih juga tidak terlepas dari fadhalNya (Allah Swt.).
Dalam dunia tasawuf, sampai akhirat pun maqamatil ananiyah (akuisme/ego) di hadapan Allah Swt., supaya kita tidak mempunyai ananiyah, maka diberi timbangan sendiri oleh Allah Swt. Supaya tau bahwa Allah Swt. Mahamengetahui dan Mahamengerti, tapi hambaNya yang tidak mengerti.
Terkadang kita sendiri lupa kalau sudah merasa setiap malam beribadah lebih untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kita bisa beribadah malam hari dan lain sebagainya, merupakan thariqah-thariqah (perjalanan) untuk menuju dekat kepada Allah Swt. Tapi terkadang sifat lupa kita ini selalu mengiringi bahwa pendekatan diri kita, dekat kita kepada Allah, itu karena fadhalNya.
Hingga kemudian yang muncul adalah "Aku", merasa mampu bisa begini dan begitu. Keakuan itu tidak diiringi dengan perasaan bahwa semua itu adalah fadhal dari Allah Swt. Padahal kalau kita ngomong dalam bahasa tasawuf atau dalam bahasa filosofi mengatakan, aku, kami, semunya itu tidak abadi. Kalau orang itu sudah mati, aku-nya ke mana? Aku yang abadi punya siapa? La Ilaha illa Ana (Tidak ada dzat yang wajib disembah kecuali Aku (Allah Swt.), yang tidak pernah melentur Aku-nya).
Maha sempurna Allah Swt. Aku-nya Allah Swt. abadi, aku-nya kita hawadits (makhluk), aku-nya kita dha'if (lemah). Kalau sudah demikian mau ngomong apa? Dengan keakuan yang bisa menghilangkan di hadapan Allah Swt., justru di situlah pintu mustajabah dari Allah Swt. Karena membuang sifat akunya bahwa orang itu atau hamba tersebut merasa dirinya faqir (merasa sangat butuh).
Kelak di hari akhir ketika menghadapi timbangan (mizan) Allah Swt., supaya kita membuka mata lebih jauh apa yang kamu perbuat di dunia ini sudah mampu begini dan begitu, agar kita mengetahui keagungan dan qadar Allah Swt. yang diberikan kepada kita dengan muamalah yang kita amalkan. Amal shalih kita ketika di dunia ini untuk menggapai dan mengetahui rahmat Allah Swt., ternyata amal kita setelah ditimbang, kita mengetahui dengan mata kepala sendiri, belum ada apa-apanya dibanding dengan betapa besar rahmat Allah Swt. yang diberikan kepada kita. Bagaikan satu ujung rambut yang paling kecil di tengah lautan, tak ada artinya apa-apa.
Begitupula bagaimana perjuangan-perjuangan para nabi terdahulu. Bagaimana Nabi Nuh As. menghadapi perjuangannya pada waktu itu, yang paling berat ketika berhadapan dengan anaknya sendiri. Ketika berhadapan dengan anak, untuk tarbiyah (didikan) kita semua, mungkin agak pedas dan semoga tidak terjadi. Kita contohkan diri sendiri, terkadang kita bisa mengajar di lingkungan yang didatangi oleh ribuan dan ratusan orang dengan memberikan fatwanya yang luar biasa, dengan keindahan tutur kata, dengan bacaan-bacaan dari para ulama shalihin al-'arifin yang telah dipahami, begitu enaknya saat menasehati (taushiyah), dan lain sebagainya. Tapi Ketika kita berhadapan dengan anak kita sendiri yang kebetulan tidak menaati peraturan orangtuanya, mungkin lebih mudah kita mengajak dengan jumlah yang sekian banyaknya daripada menghadapi anak kita sendiri. Itu cobaan yang paling top, memerlukan kesabaran.
Ketika anak kita nakal takut nama kita jelek, kita perang dengan nafsu diri sendiri dengan faktor anak. Ini tidak sadar dihantui, melekat pada hati diri kita masing-masing. Terkadang kita malu kepada manusia tapi tidak malu kepada Allah Swt. Ini tantangan, gengsi dan sebagainya. Itulah diantaranya yang dihadapi Nabi Nuh As. dengan anaknya. Nabi Nuh mampu melepaskannya dari pengaruh siapa saya, berjuang terus tidak ambil pusing mau dikatakan apapun oleh umatnya. Kita terkadang memberi dan mengambil contoh, tapi terkadang salah untuk menutupi aibnya sendiri lalu mengatakan orang lain, mengambil contoh dari orang lain. Ini anaknya Nabi Nuh As. untuk meningkatkan martabat ayahnya.
Nabi Ulul Azmi hanya 5; Nabi Nuh, Nabi Ibrahim (Khalilullah), Nabi Musa (Kalimullah), Nabi Isa (Ruhullah), dan Nabi Muhammad Saw. (Habibullah). Pembesar Ulul Azmi adalah nabi dan junjungan kita Sayyidina Muhammad Saw.
Apa yang dihadapi Nabi Nuh As. adalah percontohan yang luar biasa. Hebatnya, Yang Maha Kuasa (Allah Swt.) menggunakan kalimat (ayat al-Quran) yang luar biasa.
Tetap menjaga keistimewaan dan kebesaran Nabi Nuh. Dengan apa ayatnya? Tidak dengan mengatakan "Innahu laisa min abnaik" (Dia bukan anakmu), tapi dibawa oleh Allah Swt., "Innahu laisa min ahlik" (Sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu). Betapa halusnya Allah Swt. kepada kekasihNya, begitu hebat akhlak dan adab Yang Maha Kuasa terhadap rasulNya, kepada nabiNya, kepada kekasihNya.
إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ
"Sesungguhnya dia (mereka) bukan keluargamu (ya Nuh)." (QS. Hud ayat 46).
Menggunakan kata "ahlun" karena bisa berarti keponakan, anak kandung, anak keponakan, santri yang tinggal di rumahnya, anak adopsi juga bisa. (Nabi Nuh) diangkat (derajatnya) oleh Allah Swt. Anak adalah anak, apapun (dan bagaimanapun) anak nabi dan rasul, Nabi dan Rasul adalah bapaknya.
Begitupula apa yang terjadi pada Nabi Muhammad Saw. dalam menghadapi pamannya sendiri, Abu Lahab. Jangan dikira Abu Lahab tidak mengetahui bahwa Rasulullah itu benar. Dia mengakui, jangan dikira tidak. Hanya saja dia tidak percaya atas nubuwah (kenabian) dan risalah yang dibawa Rasulullah Saw.
Sifat Abu Lahab adalah sifat bapak. Betapa Rasulullah Saw. menjaga akhlak dan adabnya menghadapi pamannya yang demikian dengan penuh kesabaran yang luar biasa. Rasulullah Saw. mengerti bahwa taufiq dan hidayah bukan di tangan para nabi, rasul, wali, malaikat dan manusia, mutlak kehendak Allah Swt. Kita melangkah untuk mengajak, untuk berikhtiar, untuk mendapatkan taufiq dan hidayah.
Sebagai ibrah (pelajaran) untuk kita semua, hebatnya Allah Swt. ketika memberikan khabar tidak ada dhamir (kata ganti yang mengarah kepada Nabi Saw.). Karena siapa, karena apa? Karena Allah Swt. menghormati kekasihNya (Nabi Muhammad Saw.). Walaupun Abu Lahab demikian, apapun dia adalah paman Nabi Saw. Maka suratnya yang datang adalah surat al-Lahab, tidak pakai dhamir tapi langsung mukhathab, kasih khabar ayatnya karena ta'dziman (menghormati) kepada Baginda Nabi Muhammad Saw.
Bahkan para ulama besar jika membaca surat Tabbat (al-Lahab) mereka tidak mau membacanya dengan keras. Padahal mereka tahu betul kalau ini adalah wahyu dari Allah Swt., tapi karena ta'dziman. Sejahat-jahatnya Abu Lahab dia adalah pamannya Nabiy Muhammad Saw. Jadi kita membaca surat Tabbat tidak keras karena ta'dziman kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. Itu akhlak dan adab yang dimiliki oleh Baginda Nabi Muhammad Saw.
Begitupula bagaimana ketika Rasulullah berhadapan di Thaif sampai giginya patah separo terkena lemparan batu. Padahal kalau mau, Malaikat Jibril As. sudah siap (turun tangan) untuk menimpakan gunung, tinggal menunggu perintah Nabi Saw. Tapi Rasulullah Saw. tidak mempunyai sifat seperti itu. Malah didoakan "Allahummahdi qaumiy fainnahum la ya’lamun" (Ya Allah, berilah hidayah untuk ummatku karena sesungguhnya mereka belum mengetahui).
Sebetulnya kita harus banyak bercermin kepada akhlaknya Baginda Nabi Saw. Di kehidupan sehari-hari kita bercermin kepada Rasulullah Saw. Kita mau begini dan begitu selalu melihat dan mengikuti sunnah-sunnahnya Rasulullah Saw. Wallahu a'lam. (Disarikan dari Pengajian Jum'at Kliwon Kanzus sholawat Pekalongan 07 Oktober 2016.

oleh:Habib Muhammad Luthfi bin Yahya
*MT Darul Hasyimi/Ibj).

Penelitian Tentang Cara Islam Menyembelih Sapi Membuat Orang Barat Terkejut

18:25 0
sembelih sapi image www.facebook.com/id.torch/
Assalammualaikum
Orang Barat Terkejut Dengan Cara Islam Menyembelih Sapi
Masya Allah, semakin Maju Penelitian Ilmiyah Semakin Membuktikan Kebenaran Islam.
Jelang Hari Raya Idul Adha atau hari raya kurban, jangan pernah makan daging sapi tanpa disembelih, ternyata syariat Islam ini membuat orang barat terkejut.
Simak penelitian ini.
1. Rasulullah tak pernah belajar cardiology tapi syari'atnya membuktikan penelitian ilmu modern.
2. Melalui penelitian ilmiah yang dilakukan oleh dua staf ahli peternakan dari Hannover University, sebuah universitas terkemuka di Jerman. Yaitu: Prof.Dr. Schultz dan koleganya, Dr. Hazim. Keduanya memimpin satu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan: manakah yang lebih baik dan paling tidak sakit, penyembelihan secara Syari’at Islam yang murni (tanpa proses pemingsanan) ataukah penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan)?
3. Keduanya merancang penelitian sangat canggih, mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi itu dipasang elektroda (microchip) yang disebut Electro-Encephalograph (EEG). Microchip EEG dipasang di permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak, untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Di jantung sapi-sapi itu juga dipasang Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar karena disembelih.
4. Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG maupun ECG yang telah terpasang di tubuhnya selama beberapa minggu. Setelah masa adaptasi dianggap cukup, maka separuh sapi disembelih sesuai dengan Syariat Islam yang murni, dan separuh sisanya disembelih dengan menggunakan metode pemingsanan yang diadopsi Barat.
5. Dalam Syariat Islam, penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam, dengan memotong tiga saluran pada leher bagian depan, yakni: saluran makanan, saluran nafas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu: arteri karotis dan vena jugularis.
6. Patut pula diketahui, syariat Islam tidak merekomendasikan metoda atau teknik pemingsanan. Sebaliknya, Metode Barat justru mengajarkan atau bahkan mengharuskan agar ternak dipingsankan terlebih dahulu sebelum disembelih.
7. Selama penelitian, EEG dan ECG pada seluruh ternak sapi itu dicatat untuk merekam dan mengetahui keadaan otak dan jantung sejak sebelum pemingsanan (atau penyembelihan) hingga ternak itu benar-benar mati. Nah, hasil penelitian inilah yang sangat ditunggu-tunggu!
8. Dari hasil penelitian yang dilakukan dan dilaporkan oleh Prof. Schultz dan Dr. Hazim di Hannover University Jerman itu dapat diperoleh beberapa hal sbb.:
Penyembelihan Menurut Syariat Islam
Hasil penelitian dengan menerapkan praktek penyembelihan menurut Syariat Islam menunjukkan:
Pertama
Pada 3 detik pertama setelah ternak disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus), tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3 detik pertama setelah disembelih itu, tidak ada indikasi rasa sakit.
Kedua
Pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi itu benar-benar kehilangan kesadaran. Pada saat tersebut, tercatat pula oleh ECG bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya.
Ketiga
Setelah 6 detik pertama itu, ECG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher tersebut, grafik EEG tidak naik, tapi justru drop (turun) sampai ke zero level (angka nol). Hal ini diterjemahkan oleh kedua peneliti ahli itu bahwa: “No feeling of pain at all!” (tidak ada rasa sakit sama sekali!).
Keempat
Karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari hasil sembelihan semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food.
Penyembelihan Cara Barat
Pertama
Segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh dan collaps (roboh). Setelah itu, sapi tidak bergerak-gerak lagi, sehingga mudah dikendalikan. Oleh karena itu, sapi dapat pula dengan mudah disembelih tanpa meronta-ronta, dan (tampaknya) tanpa (mengalami) rasa sakit. Pada saat disembelih, darah yang keluar hanya sedikit, tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning (pemingsanan).
Kedua
Segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal itu mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh ternak (karena kepalanya dipukul, sampai jatuh pingsan).
Ketiga
Grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop ke batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa, sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal. Akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk menarik dari dari seluruh organ tubuh, serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.
Keempat
Karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka darah itu pun membeku di dalam urat-urat darah dan daging, sehingga dihasilkan unhealthy meat (daging yang tidak sehat), yang dengan demikian menjadi tidak layak untuk dikonsumsi oleh manusia. Disebutkan dalam khazanah ilmu dan teknologi daging, bahwa timbunan darah beku (yang tidak keluar saat ternak mati/disembelih) merupakan tempat atau media yang sangat baik bagi tumbuh-kembangnya bakteri pembusuk, yang merupakan agen utama merusak kualitas daging.
Bukan Ekspresi Rasa Sakit!
Meronta-ronta dan meregangkan otot pada saat ternak disembelih ternyata bukanlah ekspresi rasa sakit! Sangat jauh berbeda dengan dugaan kita sebelumnya! Bahkan mungkin sudah lazim menjadi keyakinan kita bersama, bahwa setiap darah yang keluar dari anggota tubuh yang terluka, pastilah disertai rasa sakit dan nyeri. Terlebih lagi yang terluka adalah leher dengan luka terbuka yang menganga lebar…!
Hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim justru membuktikan yang sebaliknya. Yakni bahwa pisau tajam yang mengiris leher (sebagai syariat Islam dalam penyembelihan ternak) ternyata tidaklah ‘menyentuh’ saraf rasa sakit. Oleh karenanya kedua peneliti ahli itu menyimpulkan bahwa sapi meronta-ronta dan meregangkan otot bukanlah sebagai ekspresi rasa sakit, melainkan sebagai ekspresi ‘keterkejutan otot dan saraf’ saja (yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras). Mengapa demikian? Hal ini tentu tidak terlalu sulit untuk dijelaskan, karena grafik EEG tidak membuktikan juga tidak menunjukkan adanya rasa sakit itu.
Subhanallah… Memang selalu ada jawaban dari setiap pertanyaan tentang kebenaran Islam. Selalu ada penguatan Allah dari setiap adanya usaha pelemahan dari musuh Dien-Nya yang mulia ini.
Sebenarnya, sudah tidak ada alasan lagi menyimpan rasa tak tega melihat proses penyembelihan kurban, karena aku sudah tahu bahwa hewan ternak tersebut tidak merasakan sakit ketika disembelih. Dan yang paling penting, aku dapat mengerti hikmah dari salah satu Syariah Islam dan keberkahan yang tersimpan di dalamnya.

sumber: FB TORCH/www.facebook.com/id.torch/posts

Bagi Yang Hobi memandangi atau Melihat Wanita T3lanjang, Tolong Share

13:30 1
menutup mata alsaawodpress images
Bagi yang hobi memandangi atau melihat wanita telanjang, coba baca nasihat sederhana berikut.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ تَسْتَفْتِيهِ فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الآخَرِ
“Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, ia berkata, Al-Fadhl bin ‘Abbas pernah berboncengan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu datanglah seorang wanita dari Khats’am ingin meminta fatwa pada beliau. Saat itu Al-Fadhl terus memandangi wanita tersebut. Wanita tersebut pun melihat Al-Fadhl. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memalingkan wajah Al-Fadhl ketika itu ke sisi yang lain.” (HR. Abu Daud, no. 1809, shahih menurut Syaikh Al-Albani)
Ibnul Qayyim berkata,
وهذا منع وإنكار بالفعل، فلو كان النظر جائزا لأقره عليه
“Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan larangan dan pengingkaran dengan praktik. Seandainya memandangi wanita seperti itu dibolehkan, tentu tidak dibiarkan seperti itu.” Dinukil dari Raudhah Al-Muhibbin.
Sama halnya ketika ada yang nongkrong di pinggir jalan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan untuk menundukkan pandangan.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ »
“Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465)
Perintah menundukkan pandangan itu ada demi terselamatkan kita dari pikiran untuk berbuat mesum hingga akhirnya berujung pada zina. Karena awalnya zina adalah dari memandang.
Dari sini apakah jadi halal jika seorang muslim memandang video porno dan gambar telanjang?
Semoga Allah memberikan kita taufik untuk menaati aturan Allah dan Rasul-Nya. Moga kita pun terselamatkan dari zina.
—
Selesai disusun di Pesantren DS, Panggang, Gunungkidul, 15 Rabi’uts Tsani 1437 H
Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal
Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam

Siapa Manusia Yang Paling Berbahagia di Bulan Ramadhan

14:40 0

Nasehat Fadhilatusy Syaikh Muhammad Mukhtar Asy Syinqithiy hafidzahullah

Bulan Ramadhan merupakan madrasah diantara madrasah-madrasah teragung.
Di dalam ibadah puasa terdapat dua perkara besar. Tidaklah dua perkara ini terkumpul pada hati seorang hamba melainkan ia seorang penduduk surga.

Pertama: Ikhlas
Pokok agama yang paling mendasar.
Kedua: Sabar
Satu-atunya jalan menggapai derajat tinggi di surga Allah.

Puasa terbedakan (dengan ibadah yang lain) karena dua perkara ini.

Puasa memberi nutrisi hati seorang hamba untuk ikhlas demi menginginkan wajah Allah semata.

Manusia paling bahagia di dunia ini, mereka yang hatinya bergantung kepada Allah
Manusia paling bahagia di dunia ini, mereka yang hatinya terpaut untuk mengagungkan Allah dan merasa diawasi olehNya.
Manusia paling bahagia di dunia, mereka di saat pagi dan sore perkataan dan perbuatannya hanya karena Allah.

Ikhlas..
Karenanya Allah menurunkan kitab-kitabNya.
Karenanya Allah mengutus Rasul-rasulNya.

Ikhlas adalah mengharap wajah Allah subhanahu wata’ala,
Tiap detik dan masa yang kita lalui saat bulan puasa seluruhnya untuk mengumpulkan keikhlasan dalam hati.

Allah memberi isyarat akan hal ini dalam hadis qudsi,

كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به

“Seluruh amal anak adam untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untukKu. Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari no.1761 dan Muslim no.1946)

Seorang hamba mukmin yang shalih sepatutnya menasehati dirinya bahwa puasa yang ia jalani sesuatu yang diinginkan oleh Allah. Agar ia menjadi hamba Allah bukan hamba selain Allah.

Karena Islam adalah berserah diri kepada Allah semata, tunduk dengan ketaatan serta berlepas diri dari kesyirikan dan penyembahan berhala.
Allah keluarkan puasa untuk para hambaNya. Dengan tujuan agar seorang hamba menjadi ikhlas dan inabah kepada Allah.

Ikhlas adalah asas agama yang paling agung.
Hendaknya seseorang bertanya pada dirinya ketika puasa, bicara dan bermuamalah dengan manusia dan seluruh perbuatannya.
Apakah dia inginkan wajah Allah dengan perbuatan tersebut?  Ataukah menginginkan apa yang disisi manusia? Apakah ia inginkan pujian,  sanjungan, sum’ah?

Seorang mukmin sepantasnya menjadikan puasa sebagai timbangan seluruh kalimat yang ia ucapkan.
Karena itulah dahulu para salafushshalih tatkala ingin bicara sesuatu ia perhatikan isi  hatinya terlebih dahulu.
Apakah ia inginkan pujian manusia ataukah ia inginkan Allah, Rabb surga dan manusia.

Ketahuilah sungguh ada satu hari milik Allah.
Saat itulah hari paling akhir,
Hari terbesar,
Sebelum manusia masuk ke dalam surga, kampung keselamatan.

Ketahuilah sungguh ada satu hari milik Allah.
Tidak akan bermanfaat bagi manusia apa yang diinginkan (selama di dunia) kecuali wajah Allah.
Itulah hari kemenangan bagi orang yang benar.
Semoga Allah jadikan saya dan kalian semua termasuk orang-orang yang mendapatkan ramhatNya,  kemuliaanNya.

Hendaknya orang yang berpuasa menjernihkan hatinya untuk ikhlas. Ia biasakan diri dan melatih diri sebelum bicara dan berbuat hendaknya ia tujukan untuk Allah.

Oleh karena itu Al Hasan Al bashr rahimahullah berkata,

لا يزال الرجل بخير إذاقال قال لله وإذا عمل عمل لله

“Seorang hamba senantiasa berada di atas kebaikan manakala ia berkata, iapun berkata karena Allah dan manakala ia berbuat, iapun berbuat karena Allah.” (Mushannaf Ibni Abi Syaibah)

Cukuplah seseorang disebut munafiq,
Cukuplah seseorang disebut riya,
Cukuplah seseorang disebut penjilat,
Cukuplaj seseorang disebut pendusta,
Cukuplah seseorang disebut curang,
Manakala ia berbuat kedustaan.
Manakala ia jadikan seluruh perbuatannya pada perkara yang tidak diridhai Allah jalla jalaaluh.
Cukuplah seseorang mendzalimi diri sendiri manakala Allah melihat dalam hatinya paling dasar terdapat penipuan, kedustaan, kemunafikan, atau batinnya lebih sesat  daripada dzahirnya.

فشر الناس من كانت سريرته شرا من علانيته وخير الناس من كانت سريرته خيرا من علانيته وكانت علانيته خيرا

Sejelek-jelek manusia manakala sendirian ia berbuat lebih buruk daripada saat ia berada di depan banyak orang.
Sebaik-baik orang, manakala sendirian ia berbuat paling baik daripada saat ia berada di depan umum. Maka saat terang-terangan iapun senantiasa diatas kebaikan.

Demikian pula orang yang berpuasa ia menahan makan minum. Saat ia sendirian tidak ada orang yang melihat sementara ia mampu masuk ke dalam rumahnya, masuk ke dalam kamarnya kemudian ia makan sesuka hatinya, ia minum apa saja yang ia mau namun ia tidaklah makan dan minum karena ia sedang puasa. Selama29 atau30 hari, puasa mampu membersihkan seseorang untuk ikhlas. Melatih seorang hamba untuk perkara agung yaitu merasa diawasi oleh Allah, takut kepada Allah. Seluruh hari bulan Ramdhan adalah madrasah bagi seorang hamba untuk perkara yang agung ini.

****
Sumber: Channel Telegram Faedah Ilmiyyah Syaikh Muhammad Mukhtar Asy Syinqithiy
Simak audio berikut:
http://www.shanqiti.com/lessons/nLniU0JJiqorsNGqXc2M.mp3
Diterjemahkan oleh Penerjemah wanitasalihah.com
artikel wanitasalihah.com

Jadikan Ramadhan sebagai Momentum untuk Bertaubat

12:30 0
madanitv images
Bulan Ramadhan adalah …
momen yang sangat bagus untuk bertaubat kepada Allah Jalla wa ‘Ala.
Betapa banyak manusia yang melampaui batas,
tidak taat kepada Rabb-Nya,
menerjang berbagai kemungkaran.
Akan tetapi …
ketika tiba bulan Ramadhan yang mulia ini,
tersentuhlah hatinya untuk berbalik arah menuju jalan kebaikan,
hiduplah semangatnya untuk berbuat ketaatan.
Allah menerima mereka yang telah kembali ke jalan-Nya.
Allah melihat penyesalan yang tulus di hatinya,
penyesalan karena telah melalaikan seruan Allah.
Dia bertaubat,
taubat nasuha,
taubat yang tulus.
Pada bulan ini,
bulan yang agung ini,
banyak orang yang kembali menemukan jalan kebenaran,
mereka mendatangi Allah dengan taubat nasuha.
Mereka membuang masa lalunya yang hitam,
tak ingin lagi mengulangi masa lalu yang …
penuh maksiat
penuh dosa
penuh kesia-siaan.

Bulan ini adalah momentum untuk bertaubat.
ketika rahmat mengucur tiada henti dari langit.
ketika pintu kebaikan terbuka di mana-mana.
ketika ampunan Allah begitu mudah didapatkan.
Mari jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk bertaubat.
Untuk Anda yang masih merokok,
mari berhenti merokok.
Untuk Anda yang mencampakkan orang tuanya,
Mohon maaflah kepada keduanya.
Untuk Anda yang masih berpacaran,
Mari berhenti pacaran.
Untuk Anda yang masih suka berbohong,
mari berhenti berbohong.
Untuk Anda yang berpaling dari ajaran agama,
mari kembali duduk di majelis ilmu.
Untuk Anda yang ingin kembali kepada Allah,
sekaranglah saatnya …
untuk berubah menjadi lebih baik.
***
Oleh: Redaksi WanitaSalihah.Com
Artikel WanitaSalihah.Com

Umat Lain yang Diperintahkan Berpuasa selain Umat Nabi Muhammad SAW

00:30 0
viaberita.com images
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kalian diwajibkan berpuasa – sebagaimana orang-orang sebelum kalian juga diwajibkan (berpuasa) – agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Terdapat dua faedah dalam firman Allah,

كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“… Sebagaimana orang-orang sebelum kalian juga diwajibkan (berpuasa).”

Faedah pertama.

Menghibur umat ini yang tengah merasakan lapar dan haus karena berpuasa. Orang akan merasa terhibur bila tahu bahwa kesulitan yang dialaminya juga pernah dialami oleh orang lain.

Faedah kedua.

Menjelaskan bahwa Allah menyempurnakan – bagi umat ini – keutamaan-keutamaan yang diberikan kepada umat-umat terdahulu.

Dari sini bisa kita lihat bahwa syariat umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan penyempurna syariat umat-umat terdahulu. Segala puji bagi Allah; kita mohon kepada-Nya agar memberi kita keistiqamahan di atas Islam.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وعن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” مثلي ومثل الأنبياء كمثل قصر أحسن بنيانه ترك منه موضع لبنة فطاف النظار يتعجبون من حسن بنيانه إلا موضع تلك اللبنة فكنت أنا سددت موضع اللبنة ختم بي البنيان وختم بي الرسل ” . وفي رواية : ” فأنا اللبنة وأنا خاتم النبيين”

“Aku dan para nabi ibarat sebuah istana yang paling indah bangunannya. Di bangunan itu tertinggal satu batu-bata yang belum ada. Orang-orang yang melihatnya berputar mengitarinya dengan penuh kekaguman saking indahnya istana itu, kecuali di satu bagian batu-bata. Aku ibarat batu-bata yang menutupi bagian kosong itu, dan aku adalah penutup para rasul.” (Muttafaqun ‘alaih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan syariat beliau dan syariat umat-umat terdahulu ibarat sebuah bangunan istana. Istana itu sudah hampir sempurna, kecuali satu bagian batu-bata. Orang-orang mengitari istana itu sambil terkagum-kagum. Namun mereka pun tersadar bahwa ada bagian yang kosong; itu membuat istana berlubang dan tidak lagi sempurna.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku ibarat batu-bata yang menutupi bagian kosong itu, dan aku adalah penutup para rasul.

~
Referensi:
Liqa’usy Syahri, 1:194-195, Maktabah Syamilah.
Misykatul Mashabih, karya Syaikh Al-Albani, Maktabah Syamilah.

**
Penyusun: Redaksi WanitaSalihah.Com
Artikel WanitaSalihah.Com

Kiat Ber-Medsos ketika Ramadhan

11:30 0
Pinters images
Medsos seakan menjadi kebutuhan harian setiap orang. Kita akui, banyak kemudahan yang bisa diperoleh dengan medsos.

Ketika seorang ibu tak sempat memasak sendiri untuk antaran buka puasa di masjid, dia bisa menelepon pihak catering untuk pesan-antar sesuai menu yang diinginkan.
Ketika seorang ayah tak sempat berbuka puasa bersama keluarga di rumah, dia bisa menghubungi anaknya untuk sekadar bercengkerama.
Ketika seorang anak perlu aktivitas bermanfaat sepanjang Ramadhan, ibunya bisa mencari ide-ide segar via medsos.
Ketika kita bingung dengan suatu perkara syariat, kita bisa mencari jawabannya dari referensi online tepercaya atau menanyakan langsung ke ustadz via medsos.
Di sisi lain, kita bersama sudah tahu bahwa di dunia medsos terbenam banyak “ranjau”. Ranjau-ranjau maksiat dan dosa. Bila kita salah melangkah, bisa-bisa kita menginjak “ranjau” itu. Akhirnya, kesempurnaan puasa kita berkurang dan pahala pun ikut berkurang.

Karena itulah, kali ini Redaksi WanitaSalihah.Com akan membagi beberapa kiat bermedsos ketika Ramadhan. Semoga medsos ini membawa manfaat sepanjang Ramadhan kita, bukan malah sebaliknya.

1. Al-Quran dan ibadah tetap yang utama

Medsos adalah sarana duniawi. Statusnya sama seperti hal mubah lainnya: bermanfaat bila digunakan sebagai sarana ibadah. Oleh sebab itu, berikanlah medsos jatah secukupnya. Kita gunakan medsos seperlunya, agar kita bisa memiliki waktu yang jauh lebih banyak untuk berinteraksi dengan Al-Quran dan melakukan ibadah lainnya.

2. Jaga mata dan telinga

Kadang kita tak sengaja berjumpa “ranjau” di medsos, seperti aurat wanita/lelaki, musik, gosip seputar dunia selebriti, berita politik, dan semacamnya. Ini adalah petaka pada hari-hari biasa, apatah lagi pada bulan suci Ramadhan.

Hati-hati! Sekali kita menginjaknya, ledakannya bisa dahsyat sekali.

Kita melihat atau mendengar perkara yang haram. Padahal puasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tapi juga menahan pandangan, pendengaran, lisan, hati, dan seluruh anggota tubuh.
Sekali melihat atau mendengar, jejaknya akan terus terbayang dan terngiang. Hati-hati bila menjumpai hal yang haram atau tidak bermanfaat sama sekali. Dia akan mendesak ruang di hati kita, meminta tempat yang sangat banyak. Membuat benak kita sibuk mengingatnya. Gosip artis, berita politik, dan banyak hal penting lainnya kadang menjadi ranjau tak terduga. Lebih baik kita waspadasebelum tak sadar menginjaknya. Kepada Allah kita memohon taufik.

3. Jauhi debat dan ucapan yang tak berguna

Medsos membuat lisan mampu terdiam tapi jari berubah menjadi sangat gesit. Pada hari-hari biasa saja, kita seharusnya menghindari debat dan ucapan yang tak berguna. Apatah lagi pada saat Ramadhan yang istimewa ini.

Debat dan ucapan yang tak berguna juga akan menyita begitu banyak waktu dan menguras perasaan. Alhasil, waktu, tenaga, dan pikiran yang bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat malah terbuang sia-sia atau bahkan mengantarkan diri ke pintu dosa.

Dosa itu tetap saja sama, apakah pada bulan Ramadhan atau bulan selainnya. Dia tetaplah dosa kepada Allah Sang Khalik. Dosa itu akan membuat kita malu dan menyesal pada hari hisab kelak.

Bilal bin Sa’ad rahimahullah, seorang tabi’in, berkata,

لا تنظر إلى صغر المعصية، ولكن انظر من عصيت

“Jangan melihat kecilnya maksiat, tapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.” (Ad-Da’ wad Dawa’: 82)

***
Disusun oleh Redaksi WanitaSalihah.Com
Artikel WanitaSalihah.Com



Dua Cara Mudah untuk Memanfaatkan Tiap Detik Ramadhan Anda

01:00 0
Ramadhan bubarak images
Secara umum, waktu kita pada bulan Ramadhan terbagi dua:
1. Waktu untuk ibadah.
2. Waktu untuk aktivitas duniawi.

Ketika melakukan ibadah, hendaknya kita berkonsentrasi dan berusaha untuk khusyu’, misalnya ketika shalat, membaca Al-Quran, dan menghadiri majelis ilmu.

Nah, bagaimana ketika kita mengerjakan aktivitas dunia? Bagaimana caranya supaya waktu kita tetap menghasilkan pahala?

Mari praktikkan dua cara mudah berikut ini. Semoga bermanfaat.

Pertama. Berzikir pada setiap kesempatan.

Bila kita sedang beraktivitas sehari-hari – misalnya mencuci, memasak, di kendaraan, berjalan kaki, antri, menunggu, dan lain-lain – jangan biarkan lisan kita diam percuma. Mari berzikir dan beristigfar.

Astagfirullah.
Subhanallahi wa bihamdih.
La hawla wa la quwwata illa billah.
Dan lain-lain.
Selain mendapat pahala, dengan berzikir kita menyuburkan iman di hati. Bila seseorang malas berzikir, setan akan mudah sekali menggodanya. Na’udzu billahi min dzalik.

Kedua. Niatkan perkara duniawi untuk ketaatan kepada Allah.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di –rahimahullah– mengatakan,

“Perkara mubah dibolehkan dan diizinkan oleh syari’at untuk dilakukan. Namun, perkara mubah itu dapat pula mengantarkan kepada hal-hal yang baik maka dia dikelompokkan dalam hal-hal yang diperintahkan. Perkara mubah terkadang pula mengantarkan pada hal yang jelek, maka dia dikelompokkan dalam hal-hal yang dilarang.

Inilah landasan yang harus diketahui setiap muslim bahwa hukum sarana sama dengan hukum tujuan (al wasa-il laha hukmul maqhosid).”

(Selengkapnya lihat di http://wanitasalihah.com/agar-makan-dan-tidur-menjadi-berpahala/)

Akan tetapi, ada satu hal penting yang perlu diingat. Jangan sampai kita berlebih-lebihan dalam hal yang mubah karena beralasan bahwa itu diniatkan untuk ketaatan kepada Allah.

Misalnya, sepanjang pagi hingga siang hanya tidur, dengan mencari-cari alasan bahwa itu dilakukan supaya badannya kuat berpuasa. Lalu pada sore hari, jalan-jalan keliling kota, dengan mencari-cari alasan bahwa itu untuk melewatkan waktu, supaya dia tidak tergoda untuk makan di rumah.

Kalau seperti ini caranya, kapan waktunya untuk membaca Al-Quran dan mentadabburinya? Kapan waktunya untuk duduk di majelis ilmu? Kapan waktunya untuk berbuat kebaikan yang lain?

(*) Catatan:

Di masyarakat kita tersebar riwayat yang mengatakan “tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”. Ini merupakan hadits yang tidak benar. Silakan baca di:

https://konsultasisyariah.com/5926-tidur-waktu-puasa.html
https://rumaysho.com/454-tidurnya-orang-yang-berpuasa-adalah-ibadah.html
***
Oleh: Redaksi WanitaSalihah.Com
Artikel WanitaSalihah.Com

Berjuang hingga Akhir Waktu

14:43 0
satuislam images
Penting kita sadari, bahwa Ramadhan itu bukan hanya hitungan 10 jari. Ramadhan itu sepanjang 29 atau 30 hari. Bahkan, salah satu bagian terpenting Ramadhan ada di masa akhirnya, yaitu sepuluh hari terakhir Ramadhan, ketika kita sibuk menghidupkan malam-malam untuk mendapatkan lailatul qadar.

Agar kita lebih siap menjalani satu bulan penuh ini, mari bekali diri dengan ilmu sejak dini.

Berikut ini kami terjemahkan nasihat dari Syaikh Khalid Al-Mushlih, tentang akhir yang manis dari setiap amal. Semoga Ramadhan kita tahun ini penuh berkah dan kebaikan pada setiap detiknya, sejak awal hingga akhir, kemudian bulan-bulan setelahnya. Barakallahu fi-na wa iyyakum.

**

(*) Nasihat ini diterjemahkan dari http://almosleh.com/ar/index-ar-show-149.html

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya keberhasilan amal itu tergantung di bagian akhirnya. Demikianlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنما الأعمال بالخواتيم

“Sesungguhnya amal itu tergantung akhirnya.”

Oleh sebab itu, bersemangatlah untuk menutup bulan (Ramadhan) ini dengan:
ketaatan kepada Allah Ta’ala,

taqarrub (pendekatan diri) kepada-Nya dengan berbagai amal shalih,
memperbaiki hubungan dengan-Nya, dan
bersikap jujur dalam pengharapan kepada segala kebaikan di sisi Allah Jalla wa ‘Ala.
Barang siapa yang melewati waktu lampau dengan kesia-siaan, maka hendaklah dia berusaha menjaga sisa waktu pada bulan ini dengan ketaatan dan kebaikan.

Barang siapa yang memenuhi waktu lampaunya dengan perbuatan baik, maka hendaklah dia bersemangat untuk meluruskan tujuannya dan menyucikan niatnya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hazim dari Sahal bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu; mari kita simak baik-baik pesan dari hadits yang begitu agung ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang lelaki yang tengah bertarung di medan perang yang juga diikuti oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Lelaki itu telah sangat banyak berjasa kepada pasukan kaum muslimin. Maksudnya, dia sangat banyak membantu dan ketangguhannya begitu menopang kekuatan pasukan kaum muslimin. Setiap orang kafir yang ia hadapi di peperangan itu pasti mati di tangannya.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabatnya,

من أحبَّ أن ينظر إلى رجل من أهل النار فلينظر إلى هذا

“Bila ada yang ingin melihat seorang penghuni neraka, silakan lihat lelaki ini.”

Salah seorang sahabat menanggapi, “Saya benar-benar sudah melihat peran dan kebaikannya (di peperangan ini).”

Kemudian dia berkata, “Saya mencoba mengamatinya. Ternyata, dia memang seperti yang kami katakan tadi: bila dia berhadapan dengan orang kafir di peperangan itu, pasti dia membunuhnya. (Akan tetapi), ketika dia terluka dan kondisinya melemah, ternyata dia ‘mempercepat kematiannya’ dengan menghunuskan bagian panjang pedang – yaitu menghunuskan ujung pedang – ke tengah dadanya. Dia menusuk pedang itu hingga menembus punggungnya.”

Yang terjadi, dia bunuh diri karena tidak sabar menghadapi rasa sakit yang dideritanya. Inilah realita yang tampak di depan mata sahabat Nabi yang melihatnya. Kendati demikian, di balik itu mungkin ada sesuatu yang tidak terlihat di dalam hati prajurit yang bunuh diri tersebut, seperti riya’ dan semacamnya, yang merupakan pembatal amal.

Selanjutnya, sahabat yang menyaksikan peristiwa tersebut mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia berkata, “Saya bersaksi bahwa Anda adalah rasul Allah.” Dia pun berbincang dengan Nabi shallallau ‘alaihi wasallam.

Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya, “Berita apa yang ingin engkau sampaikan?”

Lantas, sahabat tersebut menceritakan akhir hidup si lelaki yang dilihatnya tadi. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ الرجل ليعمل عمل أهل النار، ثم يعمل بعمل أهل الجنة، وإن الرجل ليعمل بعمل أهل الجنة، وهو من أهل النار، فيعمل بعمل أهل النار

“Sesungguhnya ada orang yang melakukan amalan penduduk neraka, kemudian setelahnya dia melakukan amalan penduduk surga. Sesungguhnya ada orang yang mengerjakan amalan penduduk surga – padahal sebenarnya dia adalah penghuni neraka – kemudian akhirnya dia pun melakukan amal yang dapat membawanya ke neraka.”

Kemudian beliau menyampaikan kaidah yang tidak boleh kita lalaikan, yaitu sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,

إنَّما الأعمال بالخواتيم

“Sesungguhnya amal itu tergantung kepada akhirnya.”

Bersemangatlah untuk menutup setiap ucapan dan perbuatan dengan kebaikan. Berdoalah kepada Allah agar mewujudkan husnul khatimah (akhir yang baik) pada setiap ucapan dan perbuatan kita.

رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا

“Wahai Rabb-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (QS. Al-Isra': 80)

Mohonlah kepada Allah agar kita diberikan kejujuran setiap kali memulai perkataan atau perbuatan. Mohonlah juga agat kita diberikan kejujuran di setiap akhirnya.

Ya Allah, kami mohon kepada-Mu jalan yang lurus.
Ya Allah, mohon bantu kami untuk menutup bulan ini dengan ketaatan dan kebaikan.
Wahai Tuhan yang Maha Agung dan Mahamulia, masukkanlah kami ke dalam golongan hamba-Mu yang engkau terima amal shalihnya, wahai Tuhan yang Mahahidup dan Mahakekal.

Ya Allah, terimalah puasa dan shalat kami.
Ya Allah, terimalah puasa dan shalat kami.

Ya Allah, bantulah kami untuk melakukan amal shalih dengan ikhlas demi wajah-Mu.
Jadikanlah amal shalih itu sebagai pemberat mizan kebaikan kami kelak, wahai Tuhan yang Maha Agung dan Mahamulia.

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kejelekan diri kami dan keburukan perbuatan kami.

Ya Allah, berilah kami hidayah dan tunjukilah kami jalan kebenaran, wahai Tuhan yang Maha Agung dan Mahamulia.
Ya Allah, bantulah kami dan jangan telantarkan kami.
Ya Allah, bantulah kami dan jangan telantarkan kami.
Ya Allah, berilah kami petunjuk dan mudahkanlah kami untuk meniti jalan kebenaran.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-Mu yang senantiasa berzikir dan bersyukur.

Hanya kepada-Mu kami menyandarkan rasa harap, takut, dan cemas, serta hanya kepada-Mu kami kembali.

Ya Allah, mohon terimalah taubat kami dan mudahkanlah urusan kami, ampunilah ketergelinciran kami dan bantulah kami agar tak terjerumus (dalam dosa), wahai Tuhan yang Maha Agung dan Mahamulia.

Ya Allah, bantulah kami mengerjakan amal shalih dan palingkanlah keburukan dari kami, wahai Tuhan yang Maha Agung dan Mahamulia.

Ya Allah, limpahkanlah rasa aman di seluruh penjuru negeri kami.
Jadikanlah pemimpin kami penuh kebaikan, dan jadikanlah para pejabat di negeri kami penuh kebaikan.
Jadikanlah penduduk negeri kami senantiasa takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan berusaha meraih ridha-Mu, wahai Tuhan yang Maha Agung dan Mahamulia.

Ya Allah, berilah petunjuk kepada para pemegang jabatan di negeri kami, agar mereka bisa menata negeri kami hingga penduduk negeri ini menjadi baik dan negeri ini dipenuhi kebaikan.

Ya Allah, berilah petunjuk kepada para pemegang jabatan di negeri kami, agar mereka bisa menata negeri kami hingga penduduk negeri ini menjadi baik dan negeri ini dipenuhi kebaikan.

Ya Allah, bila ada orang yang ingin menimpakan keburukan kepada kami dan kaum muslimin, buatlah mereka sibuk dengan urusannya sendiri (sehingga tidak ada waktu bagi mereka untuk mengganggu kami).
Mohon jagalah kami dari kejahatan mereka.
Hanya kepada-Mu kami memohon untuk menyingkirkan bahaya yang mereka siapkan.
Hanya kepada-Mu kami berlindung dari kekejian mereka.

Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan-Mu.
Tidak ada yang mampu menahan segala sesuatu yang Engkau beri.
Tidak ada yang mampu melakukan segala sesuatu yang Engkau tahan.
Tidak ada yang mampu memberi manfaat bila Engkau tak memberinya.

Ya Allah, berilah kami taufik agar bisa mendapatkan malam lailatul qadar.
Ya Allah, berilah kami taufik agar bisa mendapatkan malam lailatul qadar.
Ya Allah, berilah kami taufik agar bisa mendapatkan malam lailatul qadar.

Ya Allah, kepada-Mu kami mohon ampunan, keselamatan, dan pemaafan selamanya.
Wahai Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami; jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami maka kami benar-benar telah merugi.

Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Nabi Muhammad dan keluarhanya, sebagaimana engkau telah melimpahkan salawat kepada Ibrahim dan keluarganya.

Sesunguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mahamulia.

**
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah WanitaSalihah.Com
Artikel WanitaSalihah.Com

***
أيها المؤمنون! إنَّ الأعمال بالخواتيم، هكذا قال النبي صلى الله عليه وسلم: «إنما الأعمال بالخواتيم»، فاحرصوا على أن تختموا شهركم بطاعة الله تعالى والتقرب إليه بأنواع القربات، وإحسان الصلة به، وصدق العبد في الرغبة فيما عنده جلَّ في علاه، فمن كان مقصراً فيما مضى فليحفظ ما بقي من هذا الشهر بالطاعة والإحسان، ومن كان محسناً فيما مضى فليحرص على سلامة القصد وصحة النية، ففي البخاري ومسلم من حديث أبي حازم عن سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه، واستمع إلى هذا الحديث العظيم: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نظر إلى رجل في غزوة من الغزوات مع النبي صلى الله عليه وسلم، وكان رجلاً عظيم الغَنَاء في المسلمين، يعني: شديد النصرة والقوة في الذب عن أهل الإسلام، لا يترك شاذَّة من أهل الكفر إلا أتى عليها، فقال النبي صلى الله عليه وسلم لأصحابه: «من أحبَّ أن ينظر إلى رجل من أهل النار فلينظر إلى هذا»، فقال أحد الصحابة: لأنظرنَّ ما شأنه وما حاله، يقول: فتتبعته، فكان على ما وصفنا من أنه لا يترك في الكافرين شيئاً إلا أتى عليه، فلما أصابته الجراح وأثخنته، استعجل الموت فوضع ذبابة سيفه -يعني: رأس السيف- بين ثدييه، فاتجه فاتكأ عليه حتى خرج من ظهره. يعني: قتل نفسه ولم يصبر على ألم ما أصابه، ولعلَّ هذه هي الصورة الظاهرة التي رآها الصحابي، ولكن هناك أمر وراء ذلك وهو ما يمكن أن يكون قد قام في قلبه من رياء أو غير ذلك من الآفات التي تحبط العمل، فجاء الصحابي إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: أشهد أنك رسول الله. يخاطب النبي صلى الله عليه وسلم، فقال له النبي صلى الله عليه وسلم: «وما ذاك؟» فقصَّ عليه خبر الرجل وما قال فيه فقال: «إنَّ الرجل ليعمل عمل أهل النار، ثم يعمل بعمل أهل الجنة، وإن الرجل ليعمل بعمل أهل الجنة، وهو من أهل النار، فيعمل بعمل أهل النار»، ثم قال تلك القاعدة التي ينبغي أن لا تغيب عن أذهاننا، وهي قوله صلى الله عليه وسلم: «إنَّما الأعمال بالخواتيم». –

فاحرص على حسن الخاتمة في كل قول وعمل، واستحضر قول الله ودعاءه: { رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا} ، استحضر مدخل الصدق في كل مدخل تدخله من قول أو معاملة، واستحضر مخرج الصدق في كل ما تأتيه أو تذره من قول أو معاملة.

اللهم اسلك بنا سبيل الرشاد، اللهم اختم لنا شهرنا بالطاعة والإحسان، ومُنَّ علينا بفضلك يا ذا الجلال والإكرام أن نكون من عبادك المقبولين يا حيُّ يا قيوم، اللهم اقبل الصيام والقيام، اللهم اقبل الصيام والقيام، اللهم اجعله خالصاً لوجهك تثقل به الموازين يا ذا الجلال والإكرام.

اللهم إنا نعوذ بك من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، اللهم اهدنا واسلك بنا سبيل الهدى يا ذا الجلال والإكرام، اللهم أعنّا ولا تعن علينا، اللهم أعنّا ولا تعن علينا، اللهم أعنّا ولا تعن علينا، اللهم اهدنا ويسِّر الهدى لنا، اللهم اجعلنا لك ذاكرين شاكرين، لك رغَّابين رهَّابين أوَّاهين منيبين، اللهم تقبَّل توبتنا وثبت حجتنا واغفر زلتنا وأقل عثرتنا يا ذا الجلال والإكرام، اللهم استعملنا في الصالحات، واصرف عنا السيئات يا ذا الجلال والإكرام.

اللهم آمنَّا في أوطاننا، وأصلح أئمتنا وولاة أمورنا، واجعل ولايتنا فيمن خافك واتقاك واتبع رضاك يا ذا الجلال والإكرام، اللهم وفق ولاة الأمور إلى ما فيه خير العباد والبلاد، اللهم وفقهم إلى ما فيه خير العباد والبلاد، اللهم من أرادنا والمسلمين بشر فأشغله بنفسه، واكفنا شره، ندرأ بك في نحره، ونعوذ بك من شره، لا حول ولا قوة إلا بك، لا مانع لما أعطيت ولا معطي لما منعت، ولا ينفع ذا الجد منك الجد.
اللهمَّ وفقنا لقيام ليلة القدر، اللهم وفقنا لقيام ليلة القدر، اللهم وفقنا لقيام ليلة القدر، اللهم إنا نسألك العفو والعافية والمعافاة الدائمة.
ربنا ظلمنا أنفسنا، وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكوننَّ من الخاسرين.
اللَّهمَّ صلِّ على محمد وعلى آل محمد، كما صليت على إبراهيم، وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

Menjadi Orang Bertakwa dengan Berpuasa Ramadhan

00:10 0
ramadankarem images
Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Mengapa kita diwajibkan berpuasa?

Apakah supaya kita merasa lapar dan haus? Bukan.

Akan tetapi …

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

“Agar kalian bertakwa.”

Allah memerintahkan kita berpuasa supaya kita menjadi orang yang bertakwa kepada Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل فليس لله حاجه في أن يدع طعامه وشراب

“Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan keji dan malah melakukan perbuatan keji itu, maka Allah tidak butuh dengan perbuatannya yang meninggalkan makan dan minum.”

Hendaklah kita sadar bahwa kita ini sedang berpuasa. Kita tinggalkan segala hal yang halal (di luar bulan Ramadhan) – berupa makan, minum, dan berhubungan intim suami-istri. Kita tinggalkan semua itu untuk beribadah (menghambakan diri) kepada Allah, mengerjakan perintah-Nya, dan menunaikan hal yang diwajibkan-Nya. Dengan amal ketaatan tersebut, kita harapkan diri kita bisa meraih derajat takwa.

Banyak orang menyangka bahwa puasa Ramadhan itu hanya sebatas menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan intim suami-istri. Karena itulah, mereka menghabiskan sepanjang siangnya dengan tidur, mengerjakan hal yang sia-sia, bermain-main, dan semacamnya. Perbuatan mereka ini keliru.

Seharusnya, jika seorang muslim sedang berpuasa, maka …

Pendengaran, penglihatan, lisan, dan anggota tubuh juga ikut berpuasa.
Menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah.
Menunaikan hal-hal yang diwajibkan Allah.
Shalat berjamaah di masjid (bagi laki-laki).
Banyak membaca Al-Quran.
Banyak bersedekah.
Banyak berbuat baik.
Dengan melakukan seluruh hal itu, diharapkan dia bisa mencapai tujuan disyariatkannya puasa, (yaitu agar menjadi hamba Allah yang bertakwa, pen.).

**

Sumber: Liqa’usy Syahri, 1:194-195, Maktabah Syamilah.

Diterjemahkan oleh Redaksi WanitaSalihah.Com
Artikel WanitaSalihah.Com

~
(*) Silakan baca faedah lain tentang takwa di Apa Arti Takwa

–
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون.
قوله تعالى: كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ [البقرة:183] لماذا؟ هل لأجل أن نجوع ونعطش؟ لا. لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [البقرة:183] أي: من أجل أن تتقوا الله.

قال النبي عليه الصلاة والسلام: (من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل فليس لله حاجه في أن يدع طعامه وشرابه).

ومن هنا يجب أن نشعر ونحن نصوم فنمسك عما أحل الله من الأكل والشرب والنكاح، نشعر بأننا نفعل هذا تعبداً لله وامتثالاً لأمره وتنفيذاً لفرضه، وأننا نتوسل بذلك ونتوصل إلى التقوى .. إلى اجتناب المحرمات والقيام بالواجبات.

أكثر الناس يظنون أن الصيام مجرد حبس النفس عن الأكل والشرب والنكاح، فتجدهم يقضون أوقات النهار بالنوم أو العبث أو اللعب أو ما أشبه ذلك، وهذا خطأ، إذا صمت فليصم منك السمع والبصر واللسان والجوارح، اتق الله، تجنب محارم الله، قم بما أوجب الله عليك من الواجبات، صل مع الجماعة، أكثر من قراءة القرآن، أكثر من الصدقة، أكثر من الإحسان حتى تنال الحكمة التي من أجلها فرض الصوم.

Berpuasa supaya Langsing dan Sehat, Bolehkah?

13:07 0

Bagi orang yang berpuasa, ada penghapusan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan hal tersebut beserta syaratnya,
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena beriman dan mengharap pahala, dosanya yang terlalu berlalu akan diampuni.” (Muttafaqun ‘alaih)

Hadits di atas tampil dalam konteks sebab-akibat (jika-maka). Terdapat kata “imanan wah tisaban” yang berkedudukan sebagai maf’ul liajlih, yang menunjukkan alasan orang berpuasa Ramadhan. Jika seseorang berpuasa Ramadhan karena beriman dan mengharap pahala maka dosanya yang telah berlalu akan diampuni. Dengan demikian, bisa kita pahami bahwa orang yang akan mendapat ampunan dosa hanyalah orang yang berpuasa karena beriman dan mengharap pahala dari Allah.

Nah, kalau begitu, bagaimana bila orang menjadikan puasa Ramadhan sebagai momen untuk diet (supaya badan menjadi langsing), atau supaya badannya lebih sehat?

Berikut ini kami terjemahkan penjelasan Syaikh Shalih Al-Munajjid tentang amalan akhirat yang diniatkan untuk tujuan duniawi (sumber: https://islamqa.info/ar/228454). Semoga bermanfaat.

***

Amal Ibadah untuk Tujuan Duniawi

Pertanyaan:

Apakah seseorang boleh berniat melakukan ibadah namun diikuti dengan tujuan meraih manfaat duniawi?

Jawaban:

Alhamdulillah.

Pada asalnya, seorang muslim wajib meniatakan ibadah dan ketaatannya untuk meraih ridha Allah. Hendaknya niatnya hanya itu saja.

Adapun orang yang melakukan amalan ketaatan atau ibadah yang disertai tujuan duniawi, maka rinciannya ada dua.

Pertama. Tujuan duniawi adalah satu-satunya niat dan tujuannya.

Contoh: berpuasa hanya untuk diet dan supaya langsing, berhaji semata untuk mencari uang, berjihad hanya untuk mendapatkan ganimah, bersedekah hanya supaya sembuh dari penyakit atau mendapat pujian manusia, dan lain-lain.

Orang yang berniat semacam ini tidak akan mendapatkan bagian apa pun di akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ * أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)

Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata, “Barang siapa yang beramal shalih untuk meraih dunia – misalnya puasa, shalat, tahajjud – dan amal shalih itu dia lakukan hanya demi tujuan dunia, maka Allah berfirman (tentangnya), ‘Kuwafatkan orang yang menginginkan balasan dunia dalam keadaan sia-sia amalan yang dilakukannya karena tujuan duniawi itu, dan di akhirat dia termasuk orang yang merugi.” (Jami’ul Bayan, 12:347)

Abul ‘Abbas Al-Qurthubi berkata, “Jika dominasi niat (tujuan utamanya) dalam beramal adalah untuk tujuan duniawi maka amal yang dilakukannya itu tidak bernilai ibadah, bahkan dia dinilai sebagai orang yang bermaksiat dan akan mendapat hukuman di akhirat. Niat utamanya dalam beramal bisa jadi dalam bentuk ingin berbuat kekufuran – ini merupakan syirik akbar – atau bisa jadi dalam bentuk riya’ – ini merupakan syirik ashgar. Perincian ini berlaku jika motivasi melakukan ibadah adalah tujuan duniawi semata; indikasinya: bila tujuan duniawi itu tidak ada, dia tidak akan mau beramal.” (Al-Mufhim li Ma Asykala min Talkhishi Kitabi Muslim, 12:50)

Kedua. Dia beramal demi mengharap wajah Allah, dan pada saat yang bersamaan dia juga ingin mendapat manfaat dan keuntungan duniawi yang tergolong mubah (boleh). Dalam hal ini terdapat beberapa perincian.

Misalnya, orang yang berpuasa karena Allah dan pada saat yang bersamaan dia juga berniat ingin menyehatkan badannya.

Contoh lain:

Orang yang berhaji demi Allah sekaligus ingin berdagang di tempat hajinya nanti.
Orang yang berjihad fi sabilillah sekaligus ingin mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang).
Orang yang berzakat demi Allah sekaligus ingin menjadikan hartanya berberkah dan bertambah.
Orang yang bersedekah demi Allah sekaligus ingin mendapatkan kesembuhan dengan sebab sedekahnya itu.
Silaturahmi demi mendapat pahala dari Allah sekaligus memperpanjang umur dan memperluas rezeki.
Kondisi pencampuran niat semacam ini akan berbeda-beda kedudukannya dalam syariat, tergantung seberapa besar masing-masing dominasi niat tersebut.

(1) Niat terbesarnya adalah demi mengharap wajah Allah dan mendapat pahala-Nya, maka kondisi ini tidak bermasalah.

Ath-Thahir Ibnu ‘Asyura berkata, “Jika di hatinya ada tujuan mendesak, dan hal tersebut merupakan manfaat sampingan dari sebuah ibadah – bukan maksud utamanya – maka orang tersebut diampuni (tidak berdosa). Terlebih lagi jika memang manfaat sampingan itu sulit sekali dilepaskan dari hati atau manfaat sampingan itu semakin memotivasi orang untuk beribadah.” (At-Tahrir At-Tamwir, 318:23)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata, “Tujuan duniawi yang terikut dalam niat utama suatu amal tidaklah merusak pahala amal tersebut, jika memang niat utamanya adalah untuk mengharap wajah Allah dan negeri akhirat.”

Dengan sifat hikmah-Nya dan rahmat-Nya, Allah menjadikan balasan itu ada yang diberikan segera (di dunia) dan ada yang akan diberikan kemudian (di akhirat). Itulah janji yang diberikan Allah bagi orang-orang yang beramal shalih. Hasil dan buah dari suatu amal akan membangkitkan semangat manusia untuk beramal shalih dan memotivasinya untuk berbuat baik. Senada dengan hal itu, orang yang berdosa juga diancam dengan hukuman dan siksa, karena Allah ingin menakuti hamba-Nya sehingga di akhirat mereka dibangkitkan dalam keadaan tak melakukan dosa dan maksiat selama di dunia.

Seorang mukmin yang jujur keimanannya akan berusaha melakukan amal shalih dan meninggalkan dosa semata ikhlas karena Allah, dengan menjadikan janji dan ancaman dari Allah sebagai pendorong sampingannya di belakang tujuan utama yang sangat mulia (yaitu beramal karena Allah).” (Bahjah Qulubil Abrar, hlm. 273)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Jika tujuan terbesarnya adalah beribadah kepada Allah (dan dia punya tujuan sampingan yang bersifat duniawi) maka dia luput dari pahala yang sempurna. Akan tetapi, hal tersebut tidak sampai membuatnya berdosa. Allah Ta’ala berfirman,

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu.” (QS. Al-Baqarah: 198)

(2) Jika tujuan duniawi adalah niat utama (motivasi terbesarnya) maka orang tersebut tidak akan mendapat pahala sama sekali.

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan (dalam lanjutan ucapan beliau di atas), “JIka niat utamanya bukan untuk beribadah kepada Allah maka di akhirat dia tak akan mendapat pahala sama sekali. Dia hanya akan mendapat keuntungan duniawi (sesuai dengan niat awalnya, pen.). Saya khawatir, dia berdosa karena menjadikan ibadah – yang merupakan tujuan tertinggi – sebagai sarana duniawi yang rendah dan hina. Kondisi ini mirip seperti yang difirmankan Allah,

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS. At-Taubah: 58)

Di dalam Ash-Shahihain terdapat hadits riwayat Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

“Barang siapa yang berhijrah demi tujuan duniawi atau demi wanita yang ingin dinikahinya maka keuntungan hijrahnya sesuai dengan niatnya itu.”

(3) Niat ibadah dan tujuan duniawi sama-sama seimbang di dalam hatinya.

“Di dalam hatinnya, niat ibadah maupun tujuan duniawi tidak ada yang mendominasi (kadarnya sama), maka dalam hal ini ada beberapa pendapat. Pendapat yang paling mendekati kebenaran – insyaallah – adalah dia tidak mendapat pahala sama sekali sebagaimana orang yang beramal karena Allah tapi juga beramal demi tujuan selain Allah.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Syaikh Al-Utsaimin, 1:99)

Salah satu hikmah Allah Ta’ala, Dia memberikan balasan yang disegerakan – yaitu keberkahan amalan ini, menyebutkan apa saja bentuk keberhakan itu untuk hamba-Nya sebagai agar memotivasi mereka dalam beramal.

فعند الله ثواب الدنيا والآخرة

“… Karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat.” (QS. An-Nisa: 134)

Dengan disebutkannya pahala dan manfaat suatu amal shalih, jiwa manusia akan terikat dengannya dan menjadikannya tujuan. Di antara bentuk kemuliaan Allah, jika seseorang meniatkan ibadah demi mengharap wajah Allah maka Allah akan memberikan kebaikan-kebaikan di dunia “negeri” baginya (yaitu di dunia dan di akhirat),

فآتٰهم الله ثواب الدنيا وحسن ثواب الآخرة

“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat.” (QS. Ali Imran: 148)

Tidaklah tercela bila seseorang beramal demi Allah, dengan pahala akhirat sebagai tujuan utamanya dan keuntunngan duniawi (sesuai janji Allah) sebagai harapan sampingannya. Yang tercela, orang yang beramal shalih semata untuk keuntungan duniawi atau keuntungan duniawi adalah tujuan utamanya (dan tujuan akhirat hanya tujuan sampingan), dan bila tidak ada keuntungan duniawi maka dia tidak mau beramal. Allah Ta’ala berfirman,

فمن الناس من يقول ربنا آتنا في الدنيا وما له في الآخرة من خلاق ومنهم من يقول ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

“Maka di antara manusia ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,’ dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 200)

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi ….” (QS. Al-A’raf: 96)

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ ، كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ ، وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ دُونَ الْجَنَّةِ

“Lanjutkanlah haji dengan umrah, karena keduanya menghapuskan kemiskinan dan dosa, sebagaimana jilatan api mengilapkan besi, emas, dan perak. Balasan yang paling pantas bagi haji yang mabrur adalah surga.” (HR. Ahmad; dinilai shahih oleh Al-Albani)

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Siwak membersihkan mulut, diridhai oleh Rabb kita (Allah).” (HR. Ahmad, no. 33683; dinilai shahih oleh Al-Albani)

Hukum syariat yang berkaitan dengan berbagai manfaat termaktub dalam Al-Quran maupun hadits yang tak terhitung banyaknya. Di antaranya:

Melanjutkan haji dengan umrah agar terhalang dari kefakiran.
Beristigfar agar bertambah banyak harta dan anaknya.
Mengucapkan zikir-zikir agar Allah menjaganya dari marabahaya.
Shalat subuh berjamaah agar dia mendapat penjagaan Allah dan perlindungan-Nya.
Memberi kemudahan kepada orang yang tengah kesulitan, agar Allah memudahkan urusannya di dunia.
Bersalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar terhindar dari kegelisahan.
Menunaikan zakat agar bertambah banyak harta dan berkembang.
Memperbanyak ibadah agar anak keturunannya dijaga oleh Allah.
Beristigfar agar sembuh dari penyakit.


Zahir nash menunjukkan bahwa seseorang boleh beramal shalih dengan maksud duniawi ini (sebagai niat sampingan yang hanya berfungsi sebagai pengikut dari niat utamanya yaitu mengharap ridha dan pahala dari Allah, pen.). Alasannya, Allah menjadikan manfaat duniawi ini untuk memotivasi hamba-Nya untuk beramal, dengan syarat: mengharap wajah Allah adalah niat utamanya (tujuan terbesarnya) dalam beramal, sedangkan tujuan duniawinya hanya ikutan (keinginan sampingan).

Oleh karena itu, sebagian salaf beramal dengan maksud tersebut. Sa’id bin Jubair berkata, “Saya banyak melakukan shalat (sunnah) untuk anakku ini.” Hisyam menjelaskan, “Dia melakukannya karena berharap Allah menjaga anaknya.” (Hilyatul Auliya’, 4:279)

Perlu kita ingat kembali, orang yang beramal ibadah semata ikhlas karena Allah dan tujuannya hanya demi pahala Allah maka inilah niat yang paling sempurna, paling utama, dan paling besar nilainya dibandingkan orang yang mengikutkan tujuan duniawi dalam amalnya meski tujuan itu hanya keinginan sampingan.

Kesimpulan:

Bila seseorang yang melakukan amal ibadah dengan tujuan dunia semata, maka dia tidak aan mendapat pahala sama sekali, misalnya: bersedekah hanya supaya sembuh, membaca surat Al-Baqarah hanya untuk mendapatkan jodoh, berpuasa hanya untuk diet (supaya langsing), berjihad hanya untuk mendapat ghanimah, dan berhaji hanya supaya bisa berdagang).
Bila orang melakukan amal ibadah hanya demi wajah Allah dan pahala di akhirat, sementara manfaat duniawi hanya sampingan (ikutan), bukan niat utama, maka ini tidak masalah. Wallahu a’lam.
~

(*) Catatan Redaksi WanitaSalihah.Com:

Tanpa berniat diet pun, bila kita berpuasa sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, insyaallah badan akan sehat dan langsing dengan sendirinya.
Jadi, rugi sekali kalau dosa tidak diampuni karena niat puasanya hanya supaya langsing, atau niat itu yang jadi motivasi terbesarnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita untuk makan dan minum secukupnya. Jangan sampai kita menahan lapar dan dahaga sejak subuh hingga sebelum magrib, lalu ketika azan magrib berkumandang perut kita laksana bejana super besar yang menampung begitu banyak macam makanan dan minuman. Sampai-sampai untuk berdiri shalat magrib pun rasanya kita sudah tak kuat lagi. Wallahu a’lam.
~~
Oleh: Redaksi WanitaSalihah.Com
Artikel WanitaSalihah.Com

***
حكم فعل الطاعات بقصد الفوائد الدنيوية
ملخص الجواب

السؤال:
هل يجوز للإنسان أن يفعل طاعة وعبادة لله ويقصد من ورائها الحصول على منفعة دنيوية ؟
تم النشر بتاريخ: 2015-03-03
الجواب :
الحمد لله
الأصل في المسلم أن يقصد بعبادته وطاعته مرضاة الله ، وأن تكون نيته متمحضةً لذلك .
ومن فعل الطاعة أو العبادة بقصد الحصول على ثمرة دنيوية ، فإن له في ذلك حالين:
الأولى : أن تكون الثمرة الدنيوية هي كل مبتغاه وقصده .
فيصوم لأجل الحمية والريجيم ، ويحج عن غيره طلباً للمال فقط ، ويخرج للجهاد لأجل الغنيمة ، ويتصدق بنية الشفاء أو الثناء … الخ .
فهذا ليس له في الآخرة من نصيب .
قال تعالى : (مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ * أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ).
قال ابن جرير الطبري : ” مَنْ عَمِلَ صَالِحًا الْتِمَاسَ الدُّنْيَا صَوْمًا أَوْ صَلَاةً أَوْ تَهَجُّدًا بِاللَّيْلِ لَا يَعْمَلُهُ إِلَّا لِالْتِمَاسِ الدُّنْيَا ؛ يَقُولُ اللَّهُ : أُوَفِّيهِ الَّذِي الْتَمَسَ فِي الدُّنْيَا مِنَ الْمَثَابَةِ ، وَحَبِطَ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُ الْتِمَاسَ الدُّنْيَا ، وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ” انتهى من “جامع البيان” (12/347) .
وقال أبو العباس القرطبي : ” فأما إذا كان الباعثُ عليها غير ذلك من أعراض الدُّنيا ؛ فلا يكونُ عبادة ، بل يكون معصية موبقة لصاحبها ، فإما كفرٌ ، وهو : الشرك الأكبر ، وإما رياء ، وهو : الشركُ الأصغر … هذا إذا كان الباعثُ على تلك العبادة الغرضَ الدنيوي وحده ، بحيث لو فُقِد ذلك الغرضُ لتُرِك العمل “. انتهى من “المفهم لما أشكل من تلخيص كتاب مسلم” (12/50) .
الثانية : أن يبتغي بعمله وجه الله ، ويقصد مع ذلك تحصيل الحظوظ والفوائد الدنيوية المباحة التي تترتب على العمل .
كمن صام لله ، وقصد مع ذلك حفظ صحته ، وحج لله ونوى مع ذلك التجارة ، وجاهد في سبيل الله وقصد الحصول على الغنائم ، وزكى لله قاصداً البركة ونماء ماله ، وتصدق لله ونوى مع ذلك الشفاء من المرض ، ووصل رحمه ابتغاء الأجر وطول العمر وسعة الرزق .
ففي هذه الحال يختلف الحكم بحسب ” قوة الباعث ” على العمل:
١- فإن كان الباعث الأقوى هو وجه الله وابتغاء الأجر من الله ، فلا بأس .
قال الطاهر بن عاشور : ” فَأَمَّا إِنْ كَانَ لِلنَّفْسِ حَظٌّ عَاجِلٌ ، وَكَانَ حَاصِلًا تَبَعًا لِلْعِبَادَةِ ، وَلَيْسَ هُوَ الْمَقْصُودُ ، فَهُوَ مُغْتَفَرٌ ، وَخَاصَّةً إِذَا كَانَ ذَلِكَ لَا تَخْلُو عَنْهُ النُّفُوسُ، أَوْ كَانَ مِمَّا يُعِينُ عَلَى الِاسْتِزَادَةِ مِنَ الْعِبَادَةِ “. انتهى من “التحرير والتنوير” (23/ 318).
وقال الشيخ عبد الرحمن السعدي : ” قَصْد العامل ما يترتب على عمله من ثواب الدنيا لا يضره إذا كان القصد من العمل وجه الله والدار الآخرة .
فإن الله بحكمته ورحمته رتب الثواب العاجل والآجل ، ووعد بذلك العاملين ؛ لأن الأمل واستثمار ذلك ينشط العاملين ، ويبعث هممهم على الخير ، كما أن الوعيد على الجرائم ، وذكر عقوباتها مما يخوف الله به عباده ويبعثهم على ترك الذنوب والجرائم.
فالمؤمن الصادق يكون في فعله وتركه مخلصا لله ، مستعينا بما في الأعمال من المرغِّبات المتنوعة على هذا المقصد الأعلى “. انتهى من “بهجة قلوب الأبرار” صـ 273.
وقال الشيخ ابن عثيمين :
” إن كان الأغلب عليه نية التعبد فقد فاته كمال الأجر ، ولكن لا يضره ذلك باقتراف إثم أو وزر لقوله تعالى في الحجاج: ( لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ) “. انتهى

٢- وأما إن كان المقصد الدنيوي هو الباعث الأقوى ، فلا ثواب له.
قال الشيخ ابن عثيمين في تتمة كلامه السابق :
” وإن كان الأغلب عليه نية غير التعبد ، فليس له ثواب في الآخرة ، وإنما ثوابه ما حصله في الدنيا، وأخشى أن يأثم بذلك لأنه جعل العبادة التي هي أعلى الغايات وسيلة للدنيا الحقيرة، فهو كمن قال الله فيهم: ( وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ) …

وفي الصحيحين عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أن النبي، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قال: ( من كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه) .
٣- وإن تساوى عنده الأمران ، فلم تغلب نية التعبد ولا نية غير التعبد فمحل نظر، والأقرب: أنه لا ثواب له كمن عمل لله تعالى ولغيره”. انتهى من “مجموع فتاوى ورسائل الشيخ ” (1/99) .
ومن حكمة الله تعالى أن جعل للطاعات ثوابا معجّلا هو من بركة هذه الطاعات وذَكَر بعضها لعباده ترغيبا لهم في سلوك طريقها (فعند الله ثواب الدنيا والآخرة) .
وذِكْر هذه الثمرات والفوائد الدنيوية للأعمال الصالحة يجعل النفوس تتطلع إليها وتقصدها .
ومن كرمه تعالى أنه يعطي العاملين – إذا قصدوا وجهه – حسنات في الدارَيْن (فآتٰهم الله ثواب الدنيا وحسن ثواب الآخرة) .

وليس الذمّ لمن أنشأ العمل لله وقصده الأول ثواب الآخرة وما في الدنيا تبعٌ وفرعٌ ، وإنما الذم لمن لا يريد بعمل الخير إلا ثواب الدنيا أو يغلب عليه ذلك أو يُنشئ العمل من أجله ، وقد قال تعالى : ( فمن الناس من يقول ربنا آتنا في الدنيا وما له في الآخرة من خلاق ومنهم من يقول ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار )
ومن النصوص الشرعية التي فيها ترغيب بثمرات دنيوية :
قوله تعالى : ( فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ).
وقال تعالى : ( مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً) .
وقال تعالى: ( وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ).
وقال صلى الله عليه وسلم : (تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ ، كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ ، وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ دُونَ الْجَنَّةِ) رواه أحمد وصححه الألباني.
وقال: (السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ ). رواه أحمد (33683) وصححه الألباني.

فالأحكام الشرعية المعللة بفوائدها في الآيات والأحاديث لا تحصى كثرة.
ومن ذلك أيضاً:
* المتابعة بين الحج والعمرة بنية الخلاص من الفقر .
* الاستغفار بنية الحصول على الأموال والبنين .
* قول بعض الأذكار ليحفظه الله من الأذى .
* صلاة الفجر في جماعة ليكون في حفظ الله وكلاءته .
* التيسير على المعسر ، لييسر الله عليه في الدنيا .
* الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم للخلاص من الهموم .
* أداء الزكاة ليكثر ماله وينمو .
* الإكثار من العبادة قاصدا حفظ ذريته من بعده
* الاستغفار بنية الشفاء من المرض.
وظاهر هذه النصوص أن للإنسان أن يعمل العمل الصالح قاصداً الحصول على هذا الأثر الدنيوي المترتب عليها ؛ لأن الله لم يجعل هذه الفوائد الدنيوية إلا ترغيباً للناس بها ، بشرط أن يكون قصد وجه الله هو الباعث الأساس له على الطاعة ، وقصده لهذه الثمرات الدنيوية تبعاً وضمناً.
وعلى هذا يحمل فعل بعض السلف:
كما قَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ: ” إِنِّي لَأَزِيدُ فِي صَلَاتِي مِنْ أَجْلِ ابْنِي هَذَا ” ، قَالَ هِشَامٌ: رَجَاءَ أَنْ يُحْفَظَ فِيهِ. انتهى من “حلية الأولياء” (4/279).
ويبقى أن من فعل العبادة خالصا وقاصدا أجر الله وثوابه فقط أكمل وأفضل وأكثر أجرا ممن قصد مصلحة في الدنيا ولو تبعا
والخلاصة :
من فعل الطاعات بقصد الثمرات الدنيوية فقط : فليس له عند الله نصيب (يتصدق للشفاء ، تقرأ البقرة للزواج ، يصوم للحمية ، يجاهد للغنيمة ، يحج للتجارة ..) .
وأما من نوى وجه الله والدار الآخرة ، وجعل الفوائد الدنيوية تبعاً وضمناً ، لا أصلاً وأساساً : فلا حرج عليه .
والله أعلم .